Bismillahirrahim.
Wah, tumben pagi ini saya terima Email di mailbox saya. Ada yang nulis di bagian Comments (dibawah) bertanya, pada posting terakhir 1 bulan yang lalu. Memang sudah agak lama saya tidak menulis di Blog ini. Tetapi karena ada pertanyaan, saya sempatkan menuliskan jawabannya.
Yang ditanyakan:
Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Dan apa beda keduanya.
Oke deh. Rasanya sudah pernah saya bahas, di topik-topik yang lalu ya.
1. Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan tafaa 'ala: menunjukkan pekerjaan itu terjadi antara 2 belah pihak (makna saling).
Contoh:
تحاصم الكفار - tahaa-shoma al-kuffaaru : orang-orang kafir itu saling bermusuhan
Atau contoh di AQ: Surat An-naba'
عم يتساءلون - 'amma ya-tasaa-aluun : tentang apakah mereka saling bertanya?
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
a. Menunjukkan pengertian pura-pura. Contoh:
تمارض الكسلان - tamaaradha al-kaslaanu : orang malas itu pura-pura sakit
b. Menunjukkan pekerjaan yang terjadi berangsur-angsur. Contoh:
توارد الزائرون - tawaarada adz-dzaa-i-ruuna : para pengunjung itu berangsur-angsur datang.
c. Menunjukkan pengertian aslinya. Contoh:
تعالى الله - ta-'aa-lallahu : Allah ta-'aalaa. Kata ta-'aala disini sama maksudnya dengan 'alaa (Maha Tinggi).
d. Menunjukkan akibat dari suatu perbuatan. Contoh:
باعدت خالدا فتباعد - baa-'ad-tu Khoolidan fa tabaa-'a-da : aku menjauh dari Kholid, maka dia(pun) menjauh.
Oke sekarang pertanyaan ke 2.
2. Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan istaf 'ala: menunjukkan pekerjaan yang meminta sesuatu ke pihak lain.
Contoh:
استغفرت لله - istaghfartu lillahi : Aku minta-ampun kepada Allah
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
Memiliki sifat atau menganggap. Contoh:
هو استحل الحرام - huwa istahalla alharaama : dia mengganggap halal (sesuatu yang) haram itu.
Dan beberapa fungsi lainnya. Sementara kita cukupkan sampai disini dulu, pembahasannya.
Rabu, 14 Mei 2008
Minggu, 06 April 2008
Pagi dan Air
Kehebohan nyaris terjadi. Padahal waktu itu masih pagi. Ya sekitar jam 4:00 dinihari. Waktu adzan shubuh masih berapa menit lagi. Biasanya aku sudah mandi, dan siap mengenakan pakaian kantor. Kalau masih sempat sholat tahajjud aku sholat dulu sebelum mandi.
Air di kran tidak ‘ngucur’. Bagaimana mau wudhu? Sementara, tidur semalaman membuat keinginan untuk buang air kecil, besar sekali. Tidak kuat untuk ditahan. Air kencing pagi hari yang beraroma khas ”amoniak” tsb pun terpaksa dibuang ke closet. Untunglah air untuk ”flush” masih tersisa. Cress... Bau ”amoniak”pun sirna.
Tak lama istri dan anak bangun. Mau minum, air aqua di dispenser ternyata habis. Yang mau buang hajat? Wah repot sekali... tidak ada air.
Pagi itu satu cluster perumahanku, mati air. Informasi dari Satpam, air PAM mati, karena semalam ada kebocoran di pipa utama yang mensuplai air ke cluster. Walhasil, petugas PAM semalamam menutup saluran pipa sebelum masuk ke clusterku. Menurut petugasnya kerusakan baru bisa diperbaiki dalam 1 sampai 2 hari. Aduh! Pembantu di lantai 1, nanya: ”Bu... pagi ini ngak nyuci ya…?” ”Ya… mau gimana lagi ?” jawab istriku.
Karena adzan sudah dekat, aku buru-buru nyetir mobil ke Masjid, bawa rombongan. Biar wudhu’ di masjid saja. Di jalan menuju keluar cluster perumahan, ada rumah yang dikunjungi banyak orang. Rupanya disana rumah yang pakai ”double gardan”, selain pakai PAM, juga pakai air tanah yang disedot pompa. Beruntung yang punya rumah sangat dermawan. Berjejer para ibu dan pembantu tetangga-tetangga sekitar mengisi air di ember-ember. Pembantuku pun kusuruh kesana.
Pagi itu benar-benar repot. Air tidak ada buat kebutuhan mandi, nyuci, masak, MCK. Mana toilet jadi bau, karena sebahis ”dipakai” anak-anak. Air minum di dispenser pun habis.
Pagi dan Air di Al-Quran
Mengenai kejadian ini, aku jadi teringat sebuah surat di Al-Quran yaitu surat Al-Mulk (67) ayat 30:
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
Kebetulan, aku sudah & sedang kursus bahasa Arab, jadi dikit-dikit bisalah nerjemahin, kalimat tsb. Tarjamah letterleijk:
Katakanlah (hai Muhammad): ”Jelaskan kepadaku jika pada pagi hari air kalian menjadi kering”.
Disini dikatakan: in ashbaha, jika pada pagi hari menjadilah ...
Kata ashbaha satu akar kata dengan kata as-subh (waktu subuh).
Aku merasakan sekali, bagaimana repotnya kehilangan semua air pada pagi hari... Jezz... terasa baget ayat ini... in ashbaha maaukum ghauran... jika pada pagi hari menjadilah airmu kering...
Dalam bahasa Arab, ayat ini bisa ditulis dalam redaksi lain: in kaana maaukum ghauran... jika menjadilah airmu kering...
Mungkin ini hikmahnya, mengapa Allah tidak menggunakan kata kaana, yang secara fungsi dan arti sama dengan ashbaha, yaitu menjadi (to become) akan tetapi ashbaha spesifik untuk kejadian-kejadian yang terjadi pagi hari.
Aku juga ingat lantunan merdu Syaikh Al-Matrud... fa ashbahat ka assariim... Ini tentang kisah orang yang menemukan kebunnya rusak terbakar, kering dan menghitam pada pagi hari. Hanya karena mereka tidak menyebut: Insya Allah. Dan mereka bakhil terhadap si miskin. Dikatakan: fa ashbahat ka assariim - menjadilah diwaktu pagi (kebun mereka itu kering) seperti malam yang sangat gelap. Ya, kebun mereka pagi hari menjadi (asbhahat) kering seperti gelapnya malam, itu sepenggal kisah di surat Al-Qalam (68) ayat 20.
Ya Allah... kenapa musti pagi ini, air dirumahku kering? Kenapa gak ditunda siang hari saja? Biar pembantuku selesai dulu nyuci. Biar anak-anak mandi dulu dan kesekolah. Biar aku bebersih dulu sebelum ke kantor. Biar istriku bisa masak makanan dulu buat makan siang dan malam. Biar toiletku jadi gak bau... Biar... duh... Banyak sekali protes di hati...
Akhirnya, aku sampai pada lanjutan ayat ini.
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
maka, siapakah yang akan mendatangkan kepadamu air yang mengalir? bi maa-in ma’iin. (air yang mengalir, memancar). Kata ma’iin, satu akar dengan kata mu’iin (yang menolong). Duh... aku memang butuh pertolonganMu ya Allah.. Beri aku air yang ma’iin, dan yang mu’iin.
Pagi itu, benar-benar aku resapi satu ayat di surat Al-Mulk ini.
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
Jelaskanlah, jika pada suatu pagi air (ditempatmu) kering? Maka siapakah yang mampu mendatangkan air yang mengalir?
Air di kran tidak ‘ngucur’. Bagaimana mau wudhu? Sementara, tidur semalaman membuat keinginan untuk buang air kecil, besar sekali. Tidak kuat untuk ditahan. Air kencing pagi hari yang beraroma khas ”amoniak” tsb pun terpaksa dibuang ke closet. Untunglah air untuk ”flush” masih tersisa. Cress... Bau ”amoniak”pun sirna.
Tak lama istri dan anak bangun. Mau minum, air aqua di dispenser ternyata habis. Yang mau buang hajat? Wah repot sekali... tidak ada air.
Pagi itu satu cluster perumahanku, mati air. Informasi dari Satpam, air PAM mati, karena semalam ada kebocoran di pipa utama yang mensuplai air ke cluster. Walhasil, petugas PAM semalamam menutup saluran pipa sebelum masuk ke clusterku. Menurut petugasnya kerusakan baru bisa diperbaiki dalam 1 sampai 2 hari. Aduh! Pembantu di lantai 1, nanya: ”Bu... pagi ini ngak nyuci ya…?” ”Ya… mau gimana lagi ?” jawab istriku.
Karena adzan sudah dekat, aku buru-buru nyetir mobil ke Masjid, bawa rombongan. Biar wudhu’ di masjid saja. Di jalan menuju keluar cluster perumahan, ada rumah yang dikunjungi banyak orang. Rupanya disana rumah yang pakai ”double gardan”, selain pakai PAM, juga pakai air tanah yang disedot pompa. Beruntung yang punya rumah sangat dermawan. Berjejer para ibu dan pembantu tetangga-tetangga sekitar mengisi air di ember-ember. Pembantuku pun kusuruh kesana.
Pagi itu benar-benar repot. Air tidak ada buat kebutuhan mandi, nyuci, masak, MCK. Mana toilet jadi bau, karena sebahis ”dipakai” anak-anak. Air minum di dispenser pun habis.
Pagi dan Air di Al-Quran
Mengenai kejadian ini, aku jadi teringat sebuah surat di Al-Quran yaitu surat Al-Mulk (67) ayat 30:
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
Kebetulan, aku sudah & sedang kursus bahasa Arab, jadi dikit-dikit bisalah nerjemahin, kalimat tsb. Tarjamah letterleijk:
Katakanlah (hai Muhammad): ”Jelaskan kepadaku jika pada pagi hari air kalian menjadi kering”.
Disini dikatakan: in ashbaha, jika pada pagi hari menjadilah ...
Kata ashbaha satu akar kata dengan kata as-subh (waktu subuh).
Aku merasakan sekali, bagaimana repotnya kehilangan semua air pada pagi hari... Jezz... terasa baget ayat ini... in ashbaha maaukum ghauran... jika pada pagi hari menjadilah airmu kering...
Dalam bahasa Arab, ayat ini bisa ditulis dalam redaksi lain: in kaana maaukum ghauran... jika menjadilah airmu kering...
Mungkin ini hikmahnya, mengapa Allah tidak menggunakan kata kaana, yang secara fungsi dan arti sama dengan ashbaha, yaitu menjadi (to become) akan tetapi ashbaha spesifik untuk kejadian-kejadian yang terjadi pagi hari.
Aku juga ingat lantunan merdu Syaikh Al-Matrud... fa ashbahat ka assariim... Ini tentang kisah orang yang menemukan kebunnya rusak terbakar, kering dan menghitam pada pagi hari. Hanya karena mereka tidak menyebut: Insya Allah. Dan mereka bakhil terhadap si miskin. Dikatakan: fa ashbahat ka assariim - menjadilah diwaktu pagi (kebun mereka itu kering) seperti malam yang sangat gelap. Ya, kebun mereka pagi hari menjadi (asbhahat) kering seperti gelapnya malam, itu sepenggal kisah di surat Al-Qalam (68) ayat 20.
Ya Allah... kenapa musti pagi ini, air dirumahku kering? Kenapa gak ditunda siang hari saja? Biar pembantuku selesai dulu nyuci. Biar anak-anak mandi dulu dan kesekolah. Biar aku bebersih dulu sebelum ke kantor. Biar istriku bisa masak makanan dulu buat makan siang dan malam. Biar toiletku jadi gak bau... Biar... duh... Banyak sekali protes di hati...
Akhirnya, aku sampai pada lanjutan ayat ini.
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
maka, siapakah yang akan mendatangkan kepadamu air yang mengalir? bi maa-in ma’iin. (air yang mengalir, memancar). Kata ma’iin, satu akar dengan kata mu’iin (yang menolong). Duh... aku memang butuh pertolonganMu ya Allah.. Beri aku air yang ma’iin, dan yang mu’iin.
Pagi itu, benar-benar aku resapi satu ayat di surat Al-Mulk ini.
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
Jelaskanlah, jika pada suatu pagi air (ditempatmu) kering? Maka siapakah yang mampu mendatangkan air yang mengalir?
Kamis, 27 Maret 2008
Topik 79: Format Baru
Bismillahirrahmanirrahim
Para pembaca yang dirahmati Allah. Untuk menambah variasi dalam tulisan ini, saya akan coba “permak” format penulisan, Insya Allah mulai tulisan topik ini. Saya akan bagi tiga bagian: (i) Ungkapan, (ii) Kosa Kata Baru, (iii) Al-Quran.
Sampai kapan format ini akan bertahan? Allahu a’lamu. Yang jelas saya mencoba mengubah format penulisan agar tetap segar. Baiklah kita mulai.
I. Ungkapan
السلام عليكم – assalamu ‘alaykum
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته – wa ‘alaykumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh
صَبَاحُ الْخَيْرِ – shobbaahul khair : selamat pagi
صَبَاحُ النُّوْرِ – shobbaahun nuur : selamat pagi juga (jawaban)
مُنْذُ زَمَانٍ لَمْ أَرَاكَ – mundzu zamaan lam arooka : lama saya tidak berjumpa Anda
كَيْفَ حَالُكَ – kaifa haaluk ? : bagaimana kabar Anda?
الحمد لله أَنَا بِخَيْرٍ – Alhamdulillah ana bi khoir: Alhamdulillah saya baik-baik saja
أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ – ana sa’iid biliqooik : saya gembira berjumpa denganmu
أَنَا فُجُوْرٌ بِلِقَائِكَ – ana fuujuur biliqooik: saya senang berjumpa denganmu
تَبْدُوْ سَعِيْدًا هَذَا الْيَوْمَ – tabdu sa’iid hadzal yaum : Anda tampak gembira hari ini
شُكْرًا – syukran : terima kasih
تَفَضَّلْ بِلْجُلُوْسِ – tafaddhol bil juluus : silahkan duduk
البَيْتُ بَيْتَكَ – al-baytu baitak : (rumah ini rumahmu) = anggaplah rumah sendiri
هَيَّا نَشْرَبْ الشَيْ – hayya nasyrobis syaay : mari kita minum teh
II. Kosa Kata Baru
سعيد – sa-‘iid : gembira
تفضل – tafaddhol : silahkan
نشرب – nasyrab : minum
III. Al-Quran
Baiklah kita coba lihat tiga kata baru yang kita pelajari tsb di Al-Quran. Kata سعيد – sa’iid, dapat kita tebak, sebagai kata shifat. Loh… kok bisa? Ya tampak dari adanya ya, yang menyebabkan bunyi iii panjang. Contohnya kariim كريم (mulia), kabiir كبير (besar), jamiil جميل (cantik), dsb.
Kalau mau tahu kata kerjanya, maka buang ya nya, sehingga menjadi sa-’i-da سعد.
Kata sa-‘i-da : bahagia (happy, blessed) dalam Al-Quran ada di satu surat 11:108
وأما الذين سعدوا – wa ammal ladziina su-‘iduu : dan adapun orang-orang yang dibahagiakan
Terlihat disini Al-Quran menggunakan bentuk pasif: su-‘i-da (dibahagiakan), atau su-‘i-duu (mereka dibahagiakan).
Sedangkan kata sa’iid (bahagia, kata sifat) ada dalam satu surat di Al-Quran, 11:105
فمنهم شقي وسعيد – faminhum syaqiyyun wa sa-‘ii-dun : dan diantara mereka ada yang syaqiyyun (celaka), ada yang sa-‘ii-dun (bahagia).
Selanjutnya, kata تفضّل - tafadhdhol, adalah kata kerja perintah, yang artinya: Silahkan. Ini adalah bentuk kata kerja turunan ke 5. Akar katanya adalah:
فضل - يفضل : fadhola - yafdhulu : lebih
تفضل - يتفضل : tafadhdhola - yatafadhdholu : memberikan karunia, atau melebihkan
تفضل : tafadhdhol: silahkan
Di Al-Quran akar kata tafadhdhol ini kita jumpai dalam 2 ayat: yaitu surat 13 : 4, dan surat 23 : 24. Akan tetapi bentuk yang dipakai adalah kata kerja asal bukan KKT 2. Contohnya di surat 13: 4:
ونفضل بعضها - wa nufadhdhilu ba'dhohaa : dan kami melebihkan sebagian dari mereka.
Disini yang di gunakan adalah KKT-2. Ingat-ingat lagi fungsi KKT-2 adalah untuk mengjadikan fi'il yang tidak punya objek menjadi punya objek. Dalam rumus praktis, KKT-2 itu adalah kata kerja yang mendapat tambahan me....kan.
Contoh KK asal: fadhola = lebih, maka
KKT-2: fahddhola - yufadhdhilu = me-lebih-kan.
Kata terakhir yang hendak kita bahas adalah: nasyrob = kita minum. Akar katanya adalah syariba - yasyrabu : minum.
Dalam AQ, kata syariba - yashrabu ini kita jumpai dalam banyak tempat.
Contohnya di surat 83:28.
عينا يشرب بها المكربون - 'ainan yasyrabu bihaa al-mukarrabuun: mata air yang a-lmukarrabuun meminum nya.
Terlihat disini yang digukakan adalah KK asal dalam bentuk present (fi'il mudhori').
Dan masih banyak lagi kata yasrabu (minum) ini terdapat dalam AQ.
Sebagai penutup, ayat ini cukup sering digunakan untuk menasehati teman/orang lain agar tidak berlebih lebihan dalam makan/minum, surat 7:31.
كلوا واشربوا ولا تسرفوا - kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu : makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.
Demikian... Insya Allah kita akan lanjutkan pada topik berikutnya.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Untuk menambah variasi dalam tulisan ini, saya akan coba “permak” format penulisan, Insya Allah mulai tulisan topik ini. Saya akan bagi tiga bagian: (i) Ungkapan, (ii) Kosa Kata Baru, (iii) Al-Quran.
Sampai kapan format ini akan bertahan? Allahu a’lamu. Yang jelas saya mencoba mengubah format penulisan agar tetap segar. Baiklah kita mulai.
I. Ungkapan
السلام عليكم – assalamu ‘alaykum
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته – wa ‘alaykumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh
صَبَاحُ الْخَيْرِ – shobbaahul khair : selamat pagi
صَبَاحُ النُّوْرِ – shobbaahun nuur : selamat pagi juga (jawaban)
مُنْذُ زَمَانٍ لَمْ أَرَاكَ – mundzu zamaan lam arooka : lama saya tidak berjumpa Anda
كَيْفَ حَالُكَ – kaifa haaluk ? : bagaimana kabar Anda?
الحمد لله أَنَا بِخَيْرٍ – Alhamdulillah ana bi khoir: Alhamdulillah saya baik-baik saja
أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ – ana sa’iid biliqooik : saya gembira berjumpa denganmu
أَنَا فُجُوْرٌ بِلِقَائِكَ – ana fuujuur biliqooik: saya senang berjumpa denganmu
تَبْدُوْ سَعِيْدًا هَذَا الْيَوْمَ – tabdu sa’iid hadzal yaum : Anda tampak gembira hari ini
شُكْرًا – syukran : terima kasih
تَفَضَّلْ بِلْجُلُوْسِ – tafaddhol bil juluus : silahkan duduk
البَيْتُ بَيْتَكَ – al-baytu baitak : (rumah ini rumahmu) = anggaplah rumah sendiri
هَيَّا نَشْرَبْ الشَيْ – hayya nasyrobis syaay : mari kita minum teh
II. Kosa Kata Baru
سعيد – sa-‘iid : gembira
تفضل – tafaddhol : silahkan
نشرب – nasyrab : minum
III. Al-Quran
Baiklah kita coba lihat tiga kata baru yang kita pelajari tsb di Al-Quran. Kata سعيد – sa’iid, dapat kita tebak, sebagai kata shifat. Loh… kok bisa? Ya tampak dari adanya ya, yang menyebabkan bunyi iii panjang. Contohnya kariim كريم (mulia), kabiir كبير (besar), jamiil جميل (cantik), dsb.
Kalau mau tahu kata kerjanya, maka buang ya nya, sehingga menjadi sa-’i-da سعد.
Kata sa-‘i-da : bahagia (happy, blessed) dalam Al-Quran ada di satu surat 11:108
وأما الذين سعدوا – wa ammal ladziina su-‘iduu : dan adapun orang-orang yang dibahagiakan
Terlihat disini Al-Quran menggunakan bentuk pasif: su-‘i-da (dibahagiakan), atau su-‘i-duu (mereka dibahagiakan).
Sedangkan kata sa’iid (bahagia, kata sifat) ada dalam satu surat di Al-Quran, 11:105
فمنهم شقي وسعيد – faminhum syaqiyyun wa sa-‘ii-dun : dan diantara mereka ada yang syaqiyyun (celaka), ada yang sa-‘ii-dun (bahagia).
Selanjutnya, kata تفضّل - tafadhdhol, adalah kata kerja perintah, yang artinya: Silahkan. Ini adalah bentuk kata kerja turunan ke 5. Akar katanya adalah:
فضل - يفضل : fadhola - yafdhulu : lebih
تفضل - يتفضل : tafadhdhola - yatafadhdholu : memberikan karunia, atau melebihkan
تفضل : tafadhdhol: silahkan
Di Al-Quran akar kata tafadhdhol ini kita jumpai dalam 2 ayat: yaitu surat 13 : 4, dan surat 23 : 24. Akan tetapi bentuk yang dipakai adalah kata kerja asal bukan KKT 2. Contohnya di surat 13: 4:
ونفضل بعضها - wa nufadhdhilu ba'dhohaa : dan kami melebihkan sebagian dari mereka.
Disini yang di gunakan adalah KKT-2. Ingat-ingat lagi fungsi KKT-2 adalah untuk mengjadikan fi'il yang tidak punya objek menjadi punya objek. Dalam rumus praktis, KKT-2 itu adalah kata kerja yang mendapat tambahan me....kan.
Contoh KK asal: fadhola = lebih, maka
KKT-2: fahddhola - yufadhdhilu = me-lebih-kan.
Kata terakhir yang hendak kita bahas adalah: nasyrob = kita minum. Akar katanya adalah syariba - yasyrabu : minum.
Dalam AQ, kata syariba - yashrabu ini kita jumpai dalam banyak tempat.
Contohnya di surat 83:28.
عينا يشرب بها المكربون - 'ainan yasyrabu bihaa al-mukarrabuun: mata air yang a-lmukarrabuun meminum nya.
Terlihat disini yang digukakan adalah KK asal dalam bentuk present (fi'il mudhori').
Dan masih banyak lagi kata yasrabu (minum) ini terdapat dalam AQ.
Sebagai penutup, ayat ini cukup sering digunakan untuk menasehati teman/orang lain agar tidak berlebih lebihan dalam makan/minum, surat 7:31.
كلوا واشربوا ولا تسرفوا - kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu : makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.
Demikian... Insya Allah kita akan lanjutkan pada topik berikutnya.
Rabu, 19 Maret 2008
Topik 78: Kalimat Pasif KKT 5
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mohon maaf karena satu dan lain hal frekuensi penulisan agak “slow” hehe… Kata salah seorang teman saya, Pak Herry Sudjono: “wah… lagi nyari inspirasi ya…” hehe… Sebenarnya bukan cari inspirasi, karena masih banyak materi di buku-buku bahasa Arab yang bisa diangkat disini untuk dibicarakan, termasuk membahas ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, saat ini saya merasa agak ”jenuh” untuk menulis. Tapi karena satu dan beberapa email minta saya nulis lagi, menambah semangat saya juga untuk terus menulis. Mungkin ini salah satu maksud mengapa di ayat-ayat AQ, menggunakan KKT 4, wa tawaashaw bil haqqi (tawaashaw, KKT 4 mendapat tambahan TA dan ALIF, yang artinya saling mengerjakan sesuatu). Wa tawaashaw (saling ”washi” – berwasiat), ya kita harus saling berwasiat, saling mengingatkan, saling memberi semangat, untuk tetap istiqomah dijalan kebaikan.
Oke baiklah. Karena hari ini adalah hari libur nasional memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita saling mengigatkan untuk senantiasa mengikuti uswatun hasanatun kita Rasulullah SAW. Ulama-ulama sholih mengingatkan kita untuk giat belajar bahasa Arab, sebagai pilar untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Dinasehatkan:
تعلموا اللغة العربية واعلموها الناس – ta’allamuu al-lughota al-arabiyyata wa ’allimuuhaa an-naasa
Pelajarilah bahasa Arab dan ajarkanlah kepada manusia.
Umar RA juga mengingatkan kita untuk belajar bahasa Al-Quran ini. Dia berkata:
تعلموا الغة العربية فإنها من دينكم – ta’allamuu al-lughata al-‘arabiyyata fainnahaa min diinikum
Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu
Oke, baiklah kita segera mulai lanjutan pelajaran kita…
Aina washolnaa? (sudah sampai dimana kita kemaren?) Oh ya sudah bahas mengenai Kalimat Pasif. Tapi yang sudah kita bahas itu hanya kalimat pasif dari kata kerja 3 huruf asli. Contoh:
خلق الله الناس – kholaqo Allahu an-naasa (Allah menciptakan manusia)
خلق الناس – khuliqa an-naasu (Manusia diciptakan)
Kalau ada waktu insya Allah kita bisa bahas, ragam kalimat dari satu kalimat aktif menjadi 3 bagian:
1. Kalimat pasif
2. Kalimat berita tentang subject
3. Kalimat berita tentang object
Wah apa lagi nih… Gini Mas… Biar jelas, kita kasih contoh saja ya…
يفتح الموظف باب المكتبة صباحا – yaftahu al-muwazhzhofu baaba al-maktabati shobbaahan
Petugas itu membuka pintu perpustakaan pada pagi hari.
Oke kalimat diatas kalimat aktif kan? Oke... sekarang kita bisa membuat 3 macam kalimat dari kalimat diatas, yaitu:
يفتح باب المكتبة صباحا – yuftahu baabu al-maktabati shobbaahan.
Pintu perpustakaan dibuka pada pagi hari.
Itu kalimat pertama yang bisa kita buat. Sekarang kalimat ke dua, yang menjelaskan tentang subject. Siapa subjectnya : petugas. Ngapain dia? Membuka pintu.
الموظف فاتح – al-muwazzafu faathihun : petugas itu (adalah) orang yang membuka (pintu)
Kalimat ketiga yang kita bisa buat, adalah kalimat tentang object, yaitu pintu.
باب المكتبة مفتوح – baabu al-maktabati maftuuhun: pintu perpustakaan itu terbuka.
Terlihat kan bahwa dari satu kalimat aktif yang sempurna, kita bisa membuat 3 macam kalimat baru. Insya Allah kita akan latihan hal ini lagi di bagian-bagian lain.
Sekarang kita lihat hal yang sedikit lebih sukar. Apa itu?
Oke... Bagaimana membentuk kalimat pasif dari KKT 5. Oh ya KKT 5 itu adalah KKT dengan wazan تفعل – tafa’-‘ala.
Contohnya:
تفكر في – tafakkara fii : memikirkan
تفكر محمد في درسه – tafakkara muhammadun fii darsihi : Muhammad memikirkan pelajarannya.
Bagaimana pasifnya?
درسه تفكر في -darsuhu tufukkira fii : Pelajarannya dipikirkan.
Oke, apa yang bisa dipelajari? Insya Allah mudah. Yaitu, jika kita bertemu wazan KKT-5, maka urutan aktif pasif sbb:
تفعل – tafa’-‘ala (aktif)
تفعل – tufu’-‘ila (pasif)
Contoh lain:
تقدم الوالد أمام ولده – taqoddama al-waalidu amaama waladihi : Bapak itu berjalan mendahului anaknya.
Lihat KKT 5 nya: تقدم – taqoddama : berjalan mendahului
Jika dipasifkan, ingat ingat lagi wazannya: tufu’-‘ila, berarti taqoddama menjadi tuquddima. Sehingga kalimatnya menjadi:
تقدم الولد – tuquddima al-waladu : anak itu didahului.
Oke… Insya Allah mengerti ya… Kita akan lanjutkan lagi dengan topik lain, dengan masih membahas seputar kalimat pasif. Insya Allah.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mohon maaf karena satu dan lain hal frekuensi penulisan agak “slow” hehe… Kata salah seorang teman saya, Pak Herry Sudjono: “wah… lagi nyari inspirasi ya…” hehe… Sebenarnya bukan cari inspirasi, karena masih banyak materi di buku-buku bahasa Arab yang bisa diangkat disini untuk dibicarakan, termasuk membahas ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, saat ini saya merasa agak ”jenuh” untuk menulis. Tapi karena satu dan beberapa email minta saya nulis lagi, menambah semangat saya juga untuk terus menulis. Mungkin ini salah satu maksud mengapa di ayat-ayat AQ, menggunakan KKT 4, wa tawaashaw bil haqqi (tawaashaw, KKT 4 mendapat tambahan TA dan ALIF, yang artinya saling mengerjakan sesuatu). Wa tawaashaw (saling ”washi” – berwasiat), ya kita harus saling berwasiat, saling mengingatkan, saling memberi semangat, untuk tetap istiqomah dijalan kebaikan.
Oke baiklah. Karena hari ini adalah hari libur nasional memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita saling mengigatkan untuk senantiasa mengikuti uswatun hasanatun kita Rasulullah SAW. Ulama-ulama sholih mengingatkan kita untuk giat belajar bahasa Arab, sebagai pilar untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Dinasehatkan:
تعلموا اللغة العربية واعلموها الناس – ta’allamuu al-lughota al-arabiyyata wa ’allimuuhaa an-naasa
Pelajarilah bahasa Arab dan ajarkanlah kepada manusia.
Umar RA juga mengingatkan kita untuk belajar bahasa Al-Quran ini. Dia berkata:
تعلموا الغة العربية فإنها من دينكم – ta’allamuu al-lughata al-‘arabiyyata fainnahaa min diinikum
Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu
Oke, baiklah kita segera mulai lanjutan pelajaran kita…
Aina washolnaa? (sudah sampai dimana kita kemaren?) Oh ya sudah bahas mengenai Kalimat Pasif. Tapi yang sudah kita bahas itu hanya kalimat pasif dari kata kerja 3 huruf asli. Contoh:
خلق الله الناس – kholaqo Allahu an-naasa (Allah menciptakan manusia)
خلق الناس – khuliqa an-naasu (Manusia diciptakan)
Kalau ada waktu insya Allah kita bisa bahas, ragam kalimat dari satu kalimat aktif menjadi 3 bagian:
1. Kalimat pasif
2. Kalimat berita tentang subject
3. Kalimat berita tentang object
Wah apa lagi nih… Gini Mas… Biar jelas, kita kasih contoh saja ya…
يفتح الموظف باب المكتبة صباحا – yaftahu al-muwazhzhofu baaba al-maktabati shobbaahan
Petugas itu membuka pintu perpustakaan pada pagi hari.
Oke kalimat diatas kalimat aktif kan? Oke... sekarang kita bisa membuat 3 macam kalimat dari kalimat diatas, yaitu:
يفتح باب المكتبة صباحا – yuftahu baabu al-maktabati shobbaahan.
Pintu perpustakaan dibuka pada pagi hari.
Itu kalimat pertama yang bisa kita buat. Sekarang kalimat ke dua, yang menjelaskan tentang subject. Siapa subjectnya : petugas. Ngapain dia? Membuka pintu.
الموظف فاتح – al-muwazzafu faathihun : petugas itu (adalah) orang yang membuka (pintu)
Kalimat ketiga yang kita bisa buat, adalah kalimat tentang object, yaitu pintu.
باب المكتبة مفتوح – baabu al-maktabati maftuuhun: pintu perpustakaan itu terbuka.
Terlihat kan bahwa dari satu kalimat aktif yang sempurna, kita bisa membuat 3 macam kalimat baru. Insya Allah kita akan latihan hal ini lagi di bagian-bagian lain.
Sekarang kita lihat hal yang sedikit lebih sukar. Apa itu?
Oke... Bagaimana membentuk kalimat pasif dari KKT 5. Oh ya KKT 5 itu adalah KKT dengan wazan تفعل – tafa’-‘ala.
Contohnya:
تفكر في – tafakkara fii : memikirkan
تفكر محمد في درسه – tafakkara muhammadun fii darsihi : Muhammad memikirkan pelajarannya.
Bagaimana pasifnya?
درسه تفكر في -darsuhu tufukkira fii : Pelajarannya dipikirkan.
Oke, apa yang bisa dipelajari? Insya Allah mudah. Yaitu, jika kita bertemu wazan KKT-5, maka urutan aktif pasif sbb:
تفعل – tafa’-‘ala (aktif)
تفعل – tufu’-‘ila (pasif)
Contoh lain:
تقدم الوالد أمام ولده – taqoddama al-waalidu amaama waladihi : Bapak itu berjalan mendahului anaknya.
Lihat KKT 5 nya: تقدم – taqoddama : berjalan mendahului
Jika dipasifkan, ingat ingat lagi wazannya: tufu’-‘ila, berarti taqoddama menjadi tuquddima. Sehingga kalimatnya menjadi:
تقدم الولد – tuquddima al-waladu : anak itu didahului.
Oke… Insya Allah mengerti ya… Kita akan lanjutkan lagi dengan topik lain, dengan masih membahas seputar kalimat pasif. Insya Allah.
Minggu, 02 Maret 2008
Topik 77: Kalimat Pasif (lanjutan I)
Bisimillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah off, beberapa lama, kita coba lanjutkan pembahasan mengenai kalimat pasif. Mengapa topik ini yang dipilih?
Ada beberapa alasan. Tetapi yang paling menarik untuk disampaikan adalah, seringkali bagi pemula (saya Insya Allah juga termasuk pemula --don't worry), ada beberapa kesalahan pengertian dari orang yang berbahasa non-arab (Indonesia, Melayu, maupun Inggris) dalam memahami kalimat pasif dalam bahasa Arab.
Ambil contoh: Saya membaca buku.
Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.
Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.
Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:
Buku dibaca oleh saya.
A book was read by me.
Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!
Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:
Buku dibaca.
Sudah. Gitu aja.
Kok bisa?
Ya begitu peraturannya.
Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.
Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.
Jadi kalau kita buat contoh diatas:
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Jika dibuat pasif:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Perhatikan hal-hal berikut:
1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).
2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.
3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a.
4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.
5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu.
Weleh-weleh... banyak yang musti diperhatikan ya...
Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?
Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.
Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.
Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.
Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.
Sehingga yang benar itu, membacanya:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:
وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.
Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:
wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.
Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah off, beberapa lama, kita coba lanjutkan pembahasan mengenai kalimat pasif. Mengapa topik ini yang dipilih?
Ada beberapa alasan. Tetapi yang paling menarik untuk disampaikan adalah, seringkali bagi pemula (saya Insya Allah juga termasuk pemula --don't worry), ada beberapa kesalahan pengertian dari orang yang berbahasa non-arab (Indonesia, Melayu, maupun Inggris) dalam memahami kalimat pasif dalam bahasa Arab.
Ambil contoh: Saya membaca buku.
Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.
Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.
Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:
Buku dibaca oleh saya.
A book was read by me.
Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!
Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:
Buku dibaca.
Sudah. Gitu aja.
Kok bisa?
Ya begitu peraturannya.
Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.
Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.
Jadi kalau kita buat contoh diatas:
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Jika dibuat pasif:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Perhatikan hal-hal berikut:
1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).
2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.
3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a.
4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.
5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu.
Weleh-weleh... banyak yang musti diperhatikan ya...
Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?
Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.
Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.
Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.
Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.
Sehingga yang benar itu, membacanya:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:
وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.
Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:
wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.
Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.
Senin, 04 Februari 2008
Topik 76 : Past Perfect Tense
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Waktu pertama belajar kaana كان di hampir semua buku bahasa Arab menjelaskan dengan contoh kalimat sempurna (ada mubtada dan khobar), dan efeknya setelah dimasuki kaana.
Rata-rata diberi contoh seperti ini:
زيدٌ جميلٌ – Zaidun jamilun : Zaid ganteng
dan jika kemasukan kaana menjadi:
كان زيدٌ جميلاً – kaana Zaidun jamiilan: (dulu) Zaid ganteng : Zaid was handsome
Nah, contoh diatas tidaklah sukar untuk dilihat dan dipelajari polanya bukan?
Ada sedikit soal yang muncul. Waktu saya membaca Al-Qur’an terkadang yang muncul adalah kasus yang beda lagi. Ambil contoh, waktu kita mencoba membaca surat 2 ayat 10:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambahkan penyakit (tsb) dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan apa-apa (yang selama ini) mereka dustakan.
Perhatihakan kalimat terakhirnya:
بما كانوا يكذبون – bimaa kaanuu yakdzibuuna
Perhatikan karena kalimat diatas adalah untuk orang-3 laki-laki jamak, maka dipakai كانوا – kaanuu. Coba kita ganti menjadi orang-3 laki-laki tunggal, maka kalimatnya menjadi:
بما كان يكذبُ – bimaa kaana yakdzibu
Nah disini saya bingung. Kenapa?
Dalam buku-buku selalu diberi contoh setelah kaana selalu kata benda (isim), kok di Al-Quran, banyak kalimat setelah kaana itu kata kerja (fi’il).
Nah berikut penjelasannya.
Kalau saya berkata begini:
He studies Al-Quran – Dia belajar Al-Quran
Dalam bahasa Arab :
هو يتعلم القراّن - huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Kalau saya berkata:
He used to study Al-Quran : Dia (dulu) biasa belajar Al-Quran
كان يتعلم القواّن – kaana yata-‘allamu al-qur-aana
Nah bagaimana analisis mubtada khobarnya?
Begini mas dan mbak… Masih ingat kan bahwa tugas kaana adalah merafa’kan mubtada menashobkan khobar?
Oke, sekarang kita lihat kalimat diatas:
هو يتعلم القراّن - huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Mubtada’ nya : huwa
Khobarnya: yata-’allamu al-qur-aana
Perhatikan khobarnya disini adalah sebuah kalimat sempurna yang diawali dengan kata kerja sehingga sering disebut jumlah fi’liyyah.
Nah kalau khobarnya jumlah, maka pemasukan kaana kedalam susunan mubtada dan khobar dalam kalimat diatas, mengakibatkan khobarnya tidak kena efek apa-apa.
Oke coba kita masukkan kaaana:
كان هو يتعلم القراّن - kaana huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Karena setelah kata kerja tidak boleh ada dhomir (kata ganti) pelaku, maka huwa dibuang, sehingga menjadi
كان يتعلم القراّن - kaana yata-‘allamu al-qur-aana : He used to study Al-Qura’an
<>
Dari contoh ini jelaslah bagi kita bahwa, kalau setelah kaana itu ada kata kerja, maka sebenarnya kata kerja itu adalah khobar dalam bentuk fi’il, atau jumlah fi’liyyah.
Lalu apa fungsi Kaana terhadap fi’il tersebut?
Oke menariknya disini.
Kita sudah tahu bahwa dalam bahasa Arab, tenses hanya dibagi 2 saja, yaitu:
- Imperfect Tense (pekerjaan yang masih berlangsung / belum selesai)
- Perfect Tense (pekerjaan yang sudah selesai)
Contohnya:
هو كتب كتابه – huwa kataba kitaabahu : dia (telah selesai) menulis bukunya.
هو يكتب كتابه – huwa yaktubu kitaabahu : dia (sedang) menulis bukunya.
Nah dalam bahasa Inggris kita tahu, jumlah tenses banyak kan? Ada present perfect, ada past perfect dsb. Nah sebenarnya kaana dan yakuunu dapat berfungsi untuk memberi efek waktu terhadap suatu perkerjaan yang mirip-mirip dengan bahasa Inggris.
Contohnya jika saya masukkan kaana.
كان كتب كتابه – kaana kataba kitaabahu : He had written his book
كان يكتب كتابه – kaana yaktubu kitaabahu: He had been writing his book
سيكون كتب كتابه – sayakuunu kataba kitaabahu: He will have written his book
سيكون يكتب كتابه – sayakuunu yaktubu kitaabahu: He will be writing his book
Walau dalam beberapa konteks tidak bisa disamakan persis, tetapi kira-kira kaana bisa difungsikan untuk memberi efek waktu ”had” atau ”will” kepada sebuah kata kerja.
Demikian telah kita bahas fungsi lain dari kaana. Semoga Anda yang biasa belajar tenses bahasa Inggris, juga mengerti bahwa dalam bahasa Arab, bisa juga dibentuk hal yang mirip dengan tenses bahasa Inggris (walau tidak ”pas” 100%).
Allahu a’lam bishshowwaab.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Waktu pertama belajar kaana كان di hampir semua buku bahasa Arab menjelaskan dengan contoh kalimat sempurna (ada mubtada dan khobar), dan efeknya setelah dimasuki kaana.
Rata-rata diberi contoh seperti ini:
زيدٌ جميلٌ – Zaidun jamilun : Zaid ganteng
dan jika kemasukan kaana menjadi:
كان زيدٌ جميلاً – kaana Zaidun jamiilan: (dulu) Zaid ganteng : Zaid was handsome
Nah, contoh diatas tidaklah sukar untuk dilihat dan dipelajari polanya bukan?
Ada sedikit soal yang muncul. Waktu saya membaca Al-Qur’an terkadang yang muncul adalah kasus yang beda lagi. Ambil contoh, waktu kita mencoba membaca surat 2 ayat 10:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambahkan penyakit (tsb) dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan apa-apa (yang selama ini) mereka dustakan.
Perhatihakan kalimat terakhirnya:
بما كانوا يكذبون – bimaa kaanuu yakdzibuuna
Perhatikan karena kalimat diatas adalah untuk orang-3 laki-laki jamak, maka dipakai كانوا – kaanuu. Coba kita ganti menjadi orang-3 laki-laki tunggal, maka kalimatnya menjadi:
بما كان يكذبُ – bimaa kaana yakdzibu
Nah disini saya bingung. Kenapa?
Dalam buku-buku selalu diberi contoh setelah kaana selalu kata benda (isim), kok di Al-Quran, banyak kalimat setelah kaana itu kata kerja (fi’il).
Nah berikut penjelasannya.
Kalau saya berkata begini:
He studies Al-Quran – Dia belajar Al-Quran
Dalam bahasa Arab :
هو يتعلم القراّن - huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Kalau saya berkata:
He used to study Al-Quran : Dia (dulu) biasa belajar Al-Quran
كان يتعلم القواّن – kaana yata-‘allamu al-qur-aana
Nah bagaimana analisis mubtada khobarnya?
Begini mas dan mbak… Masih ingat kan bahwa tugas kaana adalah merafa’kan mubtada menashobkan khobar?
Oke, sekarang kita lihat kalimat diatas:
هو يتعلم القراّن - huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Mubtada’ nya : huwa
Khobarnya: yata-’allamu al-qur-aana
Perhatikan khobarnya disini adalah sebuah kalimat sempurna yang diawali dengan kata kerja sehingga sering disebut jumlah fi’liyyah.
Nah kalau khobarnya jumlah, maka pemasukan kaana kedalam susunan mubtada dan khobar dalam kalimat diatas, mengakibatkan khobarnya tidak kena efek apa-apa.
Oke coba kita masukkan kaaana:
كان هو يتعلم القراّن - kaana huwa yata-‘allamu al-qur-aana
Karena setelah kata kerja tidak boleh ada dhomir (kata ganti) pelaku, maka huwa dibuang, sehingga menjadi
كان يتعلم القراّن - kaana yata-‘allamu al-qur-aana : He used to study Al-Qura’an
<
Dari contoh ini jelaslah bagi kita bahwa, kalau setelah kaana itu ada kata kerja, maka sebenarnya kata kerja itu adalah khobar dalam bentuk fi’il, atau jumlah fi’liyyah.
Lalu apa fungsi Kaana terhadap fi’il tersebut?
Oke menariknya disini.
Kita sudah tahu bahwa dalam bahasa Arab, tenses hanya dibagi 2 saja, yaitu:
- Imperfect Tense (pekerjaan yang masih berlangsung / belum selesai)
- Perfect Tense (pekerjaan yang sudah selesai)
Contohnya:
هو كتب كتابه – huwa kataba kitaabahu : dia (telah selesai) menulis bukunya.
هو يكتب كتابه – huwa yaktubu kitaabahu : dia (sedang) menulis bukunya.
Nah dalam bahasa Inggris kita tahu, jumlah tenses banyak kan? Ada present perfect, ada past perfect dsb. Nah sebenarnya kaana dan yakuunu dapat berfungsi untuk memberi efek waktu terhadap suatu perkerjaan yang mirip-mirip dengan bahasa Inggris.
Contohnya jika saya masukkan kaana.
كان كتب كتابه – kaana kataba kitaabahu : He had written his book
كان يكتب كتابه – kaana yaktubu kitaabahu: He had been writing his book
سيكون كتب كتابه – sayakuunu kataba kitaabahu: He will have written his book
سيكون يكتب كتابه – sayakuunu yaktubu kitaabahu: He will be writing his book
Walau dalam beberapa konteks tidak bisa disamakan persis, tetapi kira-kira kaana bisa difungsikan untuk memberi efek waktu ”had” atau ”will” kepada sebuah kata kerja.
Demikian telah kita bahas fungsi lain dari kaana. Semoga Anda yang biasa belajar tenses bahasa Inggris, juga mengerti bahwa dalam bahasa Arab, bisa juga dibentuk hal yang mirip dengan tenses bahasa Inggris (walau tidak ”pas” 100%).
Allahu a’lam bishshowwaab.
Minggu, 03 Februari 2008
Topik 75: Istaghfir!
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan selesaikan latihan surat An-Nashr. Terakhir kita sudah membahas penggalan pertama ayat 3. Kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
1. fa sabbih bi hamdi rabbika: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.
2. wa istagfir hu : dan minta ampunlah kepada Dia
3. Innahu : sesungguhnya Dia
4. Kaana : Dia adalah
4. Tawwaabaa: Maha penerima tobat.
Kita sudah membahas fasabbih. Topik kali ini kita akan membahas mengenai point 2 sampai 4. Insya Allah.
Oke baiklah.
واستغفره - wa istaghfir hu
Istaghfir, adalah KKT-8, dalam bentuk fi'il amr (kata kerja perintah).
Asalnya adalah sbb:
غفر - ghafara - mengampuni (KK Asal)
أغفر - aghfara - mengampunkan (KKT-1)
غفر - ghaffara - mengampunkan (KKT-2)
استغفر - istaghfara - minta ampun (KKT-8)
Sedangkan perubahan mendatar (tashrif ishtilahi) dari kata KKT-8 tsb adalah:
1. KKL : استغفر - istaghfara (telah minta ampun)
2. KKS : يستغفر - yastaghfiru (sedang minta ampun)
3. Mashdar: استغفار - istighfaar (pengampunan)
4. Isim Fa'il: مستغفر - mustaghfir (orang yang minta ampun)
5. Isim Maf'ul: مستغفر - mustaghfar (orang yang diampuni)
6. Fi'il amar: استغفر - istaghfir (minta ampunlah!)
7. Fi'il nahy: لا تستغفر - laa tastaghfir (jangan minta ampun!)
8. Isim Zaman/Makan: مستغفر - mustaghfar (tempat / waktu memberi ampun)
Jadi terlihat dalam susunan mendatar tersebut perubahan dari kata istighfar menjadi istaghfir.
Hmm... gimana sih cara tahunya bagaimana tashrif (perubahan) suatu Kata Kerja menjadi 8 macam tsb?
Gini, kalau KKT-1 sampai KKT-8, semua kata kerjanya, kalau mau dicari perubahan bentuknya dari KKLnya sampai Isim Zaman/Makan nya, maka perubahan tersebut mengikuti pola. Artinya, kalau kita tahu polanya maka semua kata kerja tsb bisa kita buatkan perubahannya.
Yang repot adalah bagaimana perubahan dari KK Asal. Nah ini perlu melihat di kamus perubahan (tashrif)nya.
Oke, kita sampai pada bagian terakhir.
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban
Kita sudah pernah membahas bentuk dan tugas Inna, yaitu menashobkan mubtada' dan merafa'kan khobar. Tapi dalam kalimat diatas, kok tidak terlihat ya dimana mubtada, dimana khobarnya?
Kita juga sudah pernah membahas bentuk dan tugas Kaana, yaitu kebalikan dari tugas Inna. Kaana berfungsi merafa'kan mubtada' dan menashobkan khobar. Tapi, ntar dulu... Dalam kalimat diatas dimana mubtada' dan khobarnya?
Insya Allah kita akan bahas mengenai hal ini, dalam topik ini dan satu topik setelah ini.
Oke, baiklah. Kita sudah tahu fungsi Inna. Contohnya:
الله ُعليمٌ - Allahu 'aliimun : Allah Maha Mengetahui
Mubtada: Allahu
Khobar: 'aliimun
Sekarang kalau kita tambahkan Inna:
إن الله َعليمٌ - inna Allaha 'aliimun : (sesungguhnya) Allah Maha Mengetahui
Terlihat disini tugas inna, yaitu merubah Allahu menjadi Allaha.
Sekarang dalam kalimat:
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban
Mubtada: hu (Dia / Allah) <-- isim dhomir
Khobar: kaana tawwaban <-- jumlah fi'liyyah
Nah ingat lagi, Inna itu menashobkan mubtada. Mubtada'nya mana? Yaitu HU (kata ganti / isim dhomir).
Dalam kaidah bahasa Arab, isim dhomir shifatnya mabni (tetap). Oleh karena itu dia tidak terpengaruh, walau dia kemasukan Inna. Alias fungsi inna, yang menashobkan mubtada tidak "mempan" kena kepada kata ganti.
Asal kalimat tsb adalah:
هو كان توابا - huwa kaana tawwaba : Dia senantiasa Maha Penerima taubat
Lalu kemasukan inna menjadi:
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban : Sesungguhnya Dia senantiasa Maha Penerima Taubat.
Oke demikian dulu penjelasan mengenai mubtada dan khobar. Insya Allah kita akan bahas bagaimana kasusnya kalau mubtada dan khobar kemasukan kaana, tetapi khobarnya itu fi'il, atau jumlah fi'liyyah (kalimat yang didahului kata kerja).
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan selesaikan latihan surat An-Nashr. Terakhir kita sudah membahas penggalan pertama ayat 3. Kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
1. fa sabbih bi hamdi rabbika: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.
2. wa istagfir hu : dan minta ampunlah kepada Dia
3. Innahu : sesungguhnya Dia
4. Kaana : Dia adalah
4. Tawwaabaa: Maha penerima tobat.
Kita sudah membahas fasabbih. Topik kali ini kita akan membahas mengenai point 2 sampai 4. Insya Allah.
Oke baiklah.
واستغفره - wa istaghfir hu
Istaghfir, adalah KKT-8, dalam bentuk fi'il amr (kata kerja perintah).
Asalnya adalah sbb:
غفر - ghafara - mengampuni (KK Asal)
أغفر - aghfara - mengampunkan (KKT-1)
غفر - ghaffara - mengampunkan (KKT-2)
استغفر - istaghfara - minta ampun (KKT-8)
Sedangkan perubahan mendatar (tashrif ishtilahi) dari kata KKT-8 tsb adalah:
1. KKL : استغفر - istaghfara (telah minta ampun)
2. KKS : يستغفر - yastaghfiru (sedang minta ampun)
3. Mashdar: استغفار - istighfaar (pengampunan)
4. Isim Fa'il: مستغفر - mustaghfir (orang yang minta ampun)
5. Isim Maf'ul: مستغفر - mustaghfar (orang yang diampuni)
6. Fi'il amar: استغفر - istaghfir (minta ampunlah!)
7. Fi'il nahy: لا تستغفر - laa tastaghfir (jangan minta ampun!)
8. Isim Zaman/Makan: مستغفر - mustaghfar (tempat / waktu memberi ampun)
Jadi terlihat dalam susunan mendatar tersebut perubahan dari kata istighfar menjadi istaghfir.
Hmm... gimana sih cara tahunya bagaimana tashrif (perubahan) suatu Kata Kerja menjadi 8 macam tsb?
Gini, kalau KKT-1 sampai KKT-8, semua kata kerjanya, kalau mau dicari perubahan bentuknya dari KKLnya sampai Isim Zaman/Makan nya, maka perubahan tersebut mengikuti pola. Artinya, kalau kita tahu polanya maka semua kata kerja tsb bisa kita buatkan perubahannya.
Yang repot adalah bagaimana perubahan dari KK Asal. Nah ini perlu melihat di kamus perubahan (tashrif)nya.
Oke, kita sampai pada bagian terakhir.
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban
Kita sudah pernah membahas bentuk dan tugas Inna, yaitu menashobkan mubtada' dan merafa'kan khobar. Tapi dalam kalimat diatas, kok tidak terlihat ya dimana mubtada, dimana khobarnya?
Kita juga sudah pernah membahas bentuk dan tugas Kaana, yaitu kebalikan dari tugas Inna. Kaana berfungsi merafa'kan mubtada' dan menashobkan khobar. Tapi, ntar dulu... Dalam kalimat diatas dimana mubtada' dan khobarnya?
Insya Allah kita akan bahas mengenai hal ini, dalam topik ini dan satu topik setelah ini.
Oke, baiklah. Kita sudah tahu fungsi Inna. Contohnya:
الله ُعليمٌ - Allahu 'aliimun : Allah Maha Mengetahui
Mubtada: Allahu
Khobar: 'aliimun
Sekarang kalau kita tambahkan Inna:
إن الله َعليمٌ - inna Allaha 'aliimun : (sesungguhnya) Allah Maha Mengetahui
Terlihat disini tugas inna, yaitu merubah Allahu menjadi Allaha.
Sekarang dalam kalimat:
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban
Mubtada: hu (Dia / Allah) <-- isim dhomir
Khobar: kaana tawwaban <-- jumlah fi'liyyah
Nah ingat lagi, Inna itu menashobkan mubtada. Mubtada'nya mana? Yaitu HU (kata ganti / isim dhomir).
Dalam kaidah bahasa Arab, isim dhomir shifatnya mabni (tetap). Oleh karena itu dia tidak terpengaruh, walau dia kemasukan Inna. Alias fungsi inna, yang menashobkan mubtada tidak "mempan" kena kepada kata ganti.
Asal kalimat tsb adalah:
هو كان توابا - huwa kaana tawwaba : Dia senantiasa Maha Penerima taubat
Lalu kemasukan inna menjadi:
إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban : Sesungguhnya Dia senantiasa Maha Penerima Taubat.
Oke demikian dulu penjelasan mengenai mubtada dan khobar. Insya Allah kita akan bahas bagaimana kasusnya kalau mubtada dan khobar kemasukan kaana, tetapi khobarnya itu fi'il, atau jumlah fi'liyyah (kalimat yang didahului kata kerja).
Langganan:
Postingan (Atom)