Bismillahirrahmanirrahim.
Ini sebuah tas guru. Bagaimana kesepakatan antara tas yang muannats, dengan guru yang mudzakkar?
Begitu interpretasi saya terhadap pertanyaan Mbak Zarifah dari Malaysia. Mbak ini, walau baru bergabung jadi pembaca setia blog ini, kadang aktif berkirim pertanyaan. Saya yang juga baru alias pemula ini, kadang merasa ragu untuk menjawab, apa betul apa tidak ya jawaban saya. Tapi anggaplah media blog ini kita jadikan sarana belajar, artinya saya juga belajar dengan pertanyaan tersebut, dan saya berharap ada orang yang ahli berbahasa Arab, dapat memberikan koreksi dari pembelajaran kita disini.
Baiklah pertanyaan Mbak Zarifah sbb:
salam, ada satu soalan ttg feminine and masculine..
hazihi haqibatu al-mudarrisah. wa haqibatuha ..........>soalan nya di sinih! perlu maksuur @ maksuurah? apa perlu di setiap akhiran kata adjective perlu ditambah ta marbutha sekiranya subjek ayat feminine?
maaf, saya tanya saja di sinih, kerna tidak tahu mahu diletak bawah topik berapa.
syukran
Wuih, ada satu masalah disini: beda gaya bahasa, antara Indonesia dan Malaysia. Tapi tak mengape lah.... Saya duga pertanyaan-nya sbb:
Soalan (catatan, orang Indonesia jarang menyebut soalan, tapi soal) sbb:
هذه حقيتة - hadzihi haqiibatun : Ini koper/tas
Atau jika dibaca cara lain: hadzihi haqiibah
هذه حقيبة المدرس - hadzihi haqiibatu al-mudarrisi : Ini koper guru laki-laki
Atau jika dibaca langsung: hadzhihi haqiibatul mudarris.
Jika guru tsb guru perempuan المدرسة - al-mudarrisatu / al-mudarrisah, maka kalimatnya:
هذه حقيبة المدرسة - hadzihi haqiibatu al-mudarrisati /hadzihi haqiibatul mudarrisah : Ini koper guru wanita.
Nah, pertanyaan Mbak Zarifah ini, menanyakan masalah adjective. Sebenarya kasus diatas bukan kasus adjective. Tapi ada 2 kasus:
1. Kasus kata tunjuk muannats هذه - hadzihi atau pakai mudzakkar هذا - hadza
2. Kasus idhofah yaitu: حقيبة المدرس
Jabawan saya spt ini. Kalimat ismiyyah harus dipandang sebagai suatu satuan mubtada dan khobar. Dalam kasus Mbak Zarifah, awal pembicaraan ingin menyatakan: Ini koper.
هذه الحقيبة - hadzihi al-haqiibatu
Mubtada' adalah hadzihi : ini
Khobar adalah al-haqiibatu : sebuah koper
Lihat bahwa koper yang dibicarakan sudah koper yang spesifik (ada tambahan al).
Nah kalau kita lihat, bahwa jenis mubtada' harus cocok dengan khobar. Kalau khobarnya muannats (lihat koper- ada ta marbutah-nya), maka mubtada juga harus muannats. Sehingga kita pakai kata tunjuk (isim isyarah) yang muannats juga.
Sekarang, kalau kita ingin menspesifikkan lagi, bahwa: ini adalah tas milik ustadz, maka kata:
الحقيبة al-haqiibatu, kita ubah menjadi
حقيبة الأستاذ - haqiibatu al-ustaadzi (haqiibatul ustaadz)
حقيبة المدرس - haqiibatu al-mudarrisi (haqiibatul mudarris)
Karena suatu benda yang jenis-katanya perempuan bisa saja dimiliki oleh orang laki-laki, jadi pasangan antara mudhof dengan mudhof ilaih bisa saja beda jenis kata.
Contoh diatas:
حقيبة المدرس - haqiibatu al-mudarrisi (haqiibatul mudarris)
Kata koper - haqiibah adalah muannats, sedangkan mudhof ilaihnya adalah mudzakkar (al-mudarris).
Jadi kesimpulannya kata mudhof dan mudhof ilaih tidak mesti harus sama-sama muannats atau mudzakkar.
Penentuan jenis kata idhofah:
Jenis kata idhofah ditentukan oleh jenis kata Mudhofnya. Tidak peduli mudhof ilaih-nya berjenis apa.
Contoh:
سيارة - sayyaratun : sebuah mobil --> muannats
سيارة الولد - sayyaratul waladi : the boy's car --> sayyaratul waladi = idhofah muannats, karena mudhofnya (sayyarah) adalah muannats.
سيارة البنت - sayyaratul bint : the girl's car --> idhofah muannats
Jika kita tambahkan kata adjective: jamiil (bagus/keren)
سيارة البنت جميلة - sayyaratul bint jamiilatun --> idhofah muannats
سيارة الولد جميلة - sayyaratul walad jamiilatun --> idhofah muannats
Terlihat bahwa adjective nya mengambil patokan (referensi) ke mudhof-nya yitu mobil yang muannats.
المسجد - al-masjid --> mudzakkar
مسجد ريد - masjidu zaidin --> Masjid (milik)Pak Zaid
مسجد ليلي - masjidu layli --> Masjid (milik) Bu Lili
Perhatikan karena idhofaf kata-kata diatas adalah mudzakkar, maka kata tunjuknya harus mudzakkar.
هذا مسجد ريد - hadza masjidu zaidin --> ini masjid (milik)Pak Zaid
هذا مسجد ليلي - hadza masjidu layli --> ini masjid (milik) Bu Lili
Terlihat bahwa kata tunjuknya mengambil patokan (referensi) ke mudhof-nya yitu masjid yang mudzakkar.
Demikian kira-kira penjelasannya. Allahu a'lam.
Minggu, 20 Januari 2008
Kamis, 17 Januari 2008
Topik 73: The ustadz's book: Lanjutan topik Mudhof
Bismimillahirrahmaniraahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan bahas bagian setelah FA SABBIH, yaitu masih di ayat 3 surat Al-Nashr.
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
bi hamdi rabbika : dengan pujian kepada Tuhanmu
atau lebih pas lagi secara harfiah:
bi hamdi rabbika : dengan pujian milik Tuhanmu
Dalam tafsir kita baca terjemahannya sbb:
dengan memuji Tuhanmu
Sebenarnya, secara harfiah, terjemahannya itu:
dengan pujian (milik) Tuhanmu
Kenapa begitu?
Karena kata حمد - hamdi (atau hamdin) disitu adalah mashdar, artinya dia kata benda, sehingga terjemahnya adalah pujian, bukan memuji.
Kalau di translate ke bahasa Inggris:
بحمد ربك - bi hamdi rabika : with the praise of your lord
the praise (pujian) disini adalah Noun (Kata Benda).
Oke mari kita bahas struktur بحمد ربك - bi hamdi rabika.
Kembali lagi kita bertemu kasus Idhofah (Mudhof + Mudhof Ilaih). Mudhofnya adalah حمد - hamdi (pujian/praise), dan mudhof ilaihnya adalah ربك - rabbika : Tuhanmu (your Lord).
Dalam bahasa Inggris, polanya Mudhof (of) Mudhof Ilaih, sehingga menjadi:
the Praise of your Lord.
Masalah Definiteness dari Mudhof
Apa itu definitness? Insya Allah Anda masih ingat bukan? Ya, contoh gampangnya kalau saya buat kalimat:
1. I read the book
2. I read a book
Dalam kalimat 1, jika saya berkata "I read the book", maka dalam kepala saya, para pendengar sudah tahu buku mana yang saya maksud. Misalkan, saya ditengah percakapan dengan seorang sahabat:
"Kemaren saya beli buku La Tahzan, lalu saya baca buku itu".
"Yesterday I bought "La Tahzan". And, I read the book".
Karena kata "buku" itu teman saya tahu apa yang dimaksud, maka saya pakai "the book". Artinya, kata "buku" itu sudah spesifik, atau sudah definitive (sudah terdefinisi). Dengan kata lain: definitness-nya sudah terdefinisi.
Dalam kalimat 2: I read a book. Buku disini belum terdefinisi. Bisa buku apa saja.
A cup of coffee
فنجان قهوة - finjaanu qahwatin
finjaanu : secangkir / a cup
qahwatin (qahwah): kopi /coffee
Kata diatas adalah idhofah. Bagaimana status "definitness" nya?
Dalam kaidah bahasa Arab, kata diatas belum definitive, sering disebut Nakiroh.
Mungkin masih bingung ya? Oke saya kasih contoh lain:
بابُ المسجد - baabul masjid : pintu masjid
Bagaimana hukum definitness-nya? Lihat bahwa karena mudhof-ilaih-nya definitiv (Ma'rifah), maka kata diatas dianggap Ma'rifah. Artinya: sudah jelas pintu yang mana, yaitu pintu masjid, bukan pintu rumah. Kalau di translate ke bahasa Inggris, menjadi "the masjid's door", atau "the door of the masjid", bukan "the door of a masjid". Karena dalam hal ini masjid nya pun sudah definitif.
Masalah akan timbul, kalau kita mau bilang spt ini:
A door of the Masjid (sebuah pintu dari masjid itu)
Kalau kita pakai:
باب مسجدٍ - baabu masjidin : a masjid's door (a door of a masjid)
Padahal kita tahu bahwa masjidnya sudah definitif (the masjid). Saya melihat dalam hal ini grammar dari bahasa Inggris, tidak apple-to-apple dengan bahasa Arab. Artinya tidak bisa dipadankan langsung.
Jika yang mau ditekankan "a door", bahwa pintu dari masjid itu belum pasti (apakah pintu depan, pintu samping atau pintu belakang), maka dalam bahasa Arab, bisa kita berkata spt ini:
بابٌ من ابواب المسجد - baabun min abwaabil masjid (a door from the masjid's doors)
sebuah pintu dari pintu-pintu masjid itu.
Disini masjidnya sudah jelas, tetapi pintu yang dibicarakan belum jelas (belum terdefinisi).
Sebagai ringkasan:
1. Idhofah disebut definitif (ma'rifah), jika mudhof ilaihnya definitif
2. Idhofah disebut belum definitif (nakiroh), jika mudhof ilaihnya belum definitif
Tambahan contoh:
كتاب أستاذ - kitaabu ustaadz : sebuah kitab milik seorang ustadz
idhofah diatas adalah nakiroh.
كتاب الأستاذ - katabbul ustaadz: kitab (tertentu) milik seorang ustadz
idhofah diatas adalah ma'rifah.
سيارة خالد - sayyaratu khaalid : Mobil Khalid (Car of Khalid). Karena semua nama orang dihukumi sebagai definitif, maka idhofah dalam contoh ini adalah ma'rifah.
قلم إستاذي - qolamu ustaadzii: pena ustadzku (the pen of my ustadz). Karena semua kata benda yang diimbuhi pemilik spt: ustadzku (my ustad), adalah defititive, maka idhofah dalam kasus ini adalah definitif (ma'rifah).
Kembali ke ayat 3 surat An-Nashr ini:
بحمد ربك - bi hamdi rabbika: the praise of your Lord: Pujian (milik) Tuhanmu, maka ini juga dihukumi sebagai ma'rifah. Hal ini disebabkan kata rob (Tuhan) ditempeli oleh kata-ganti milik (ka)--> rabbika (Tuhanmu).
Demikian penjelasan tambahan mengenai kasus Ma'rifah / Nakirohnya suatu Idhofah.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan bahas bagian setelah FA SABBIH, yaitu masih di ayat 3 surat Al-Nashr.
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
bi hamdi rabbika : dengan pujian kepada Tuhanmu
atau lebih pas lagi secara harfiah:
bi hamdi rabbika : dengan pujian milik Tuhanmu
Dalam tafsir kita baca terjemahannya sbb:
dengan memuji Tuhanmu
Sebenarnya, secara harfiah, terjemahannya itu:
dengan pujian (milik) Tuhanmu
Kenapa begitu?
Karena kata حمد - hamdi (atau hamdin) disitu adalah mashdar, artinya dia kata benda, sehingga terjemahnya adalah pujian, bukan memuji.
Kalau di translate ke bahasa Inggris:
بحمد ربك - bi hamdi rabika : with the praise of your lord
the praise (pujian) disini adalah Noun (Kata Benda).
Oke mari kita bahas struktur بحمد ربك - bi hamdi rabika.
Kembali lagi kita bertemu kasus Idhofah (Mudhof + Mudhof Ilaih). Mudhofnya adalah حمد - hamdi (pujian/praise), dan mudhof ilaihnya adalah ربك - rabbika : Tuhanmu (your Lord).
Dalam bahasa Inggris, polanya Mudhof (of) Mudhof Ilaih, sehingga menjadi:
the Praise of your Lord.
Masalah Definiteness dari Mudhof
Apa itu definitness? Insya Allah Anda masih ingat bukan? Ya, contoh gampangnya kalau saya buat kalimat:
1. I read the book
2. I read a book
Dalam kalimat 1, jika saya berkata "I read the book", maka dalam kepala saya, para pendengar sudah tahu buku mana yang saya maksud. Misalkan, saya ditengah percakapan dengan seorang sahabat:
"Kemaren saya beli buku La Tahzan, lalu saya baca buku itu".
"Yesterday I bought "La Tahzan". And, I read the book".
Karena kata "buku" itu teman saya tahu apa yang dimaksud, maka saya pakai "the book". Artinya, kata "buku" itu sudah spesifik, atau sudah definitive (sudah terdefinisi). Dengan kata lain: definitness-nya sudah terdefinisi.
Dalam kalimat 2: I read a book. Buku disini belum terdefinisi. Bisa buku apa saja.
A cup of coffee
فنجان قهوة - finjaanu qahwatin
finjaanu : secangkir / a cup
qahwatin (qahwah): kopi /coffee
Kata diatas adalah idhofah. Bagaimana status "definitness" nya?
Dalam kaidah bahasa Arab, kata diatas belum definitive, sering disebut Nakiroh.
Mungkin masih bingung ya? Oke saya kasih contoh lain:
بابُ المسجد - baabul masjid : pintu masjid
Bagaimana hukum definitness-nya? Lihat bahwa karena mudhof-ilaih-nya definitiv (Ma'rifah), maka kata diatas dianggap Ma'rifah. Artinya: sudah jelas pintu yang mana, yaitu pintu masjid, bukan pintu rumah. Kalau di translate ke bahasa Inggris, menjadi "the masjid's door", atau "the door of the masjid", bukan "the door of a masjid". Karena dalam hal ini masjid nya pun sudah definitif.
Masalah akan timbul, kalau kita mau bilang spt ini:
A door of the Masjid (sebuah pintu dari masjid itu)
Kalau kita pakai:
باب مسجدٍ - baabu masjidin : a masjid's door (a door of a masjid)
Padahal kita tahu bahwa masjidnya sudah definitif (the masjid). Saya melihat dalam hal ini grammar dari bahasa Inggris, tidak apple-to-apple dengan bahasa Arab. Artinya tidak bisa dipadankan langsung.
Jika yang mau ditekankan "a door", bahwa pintu dari masjid itu belum pasti (apakah pintu depan, pintu samping atau pintu belakang), maka dalam bahasa Arab, bisa kita berkata spt ini:
بابٌ من ابواب المسجد - baabun min abwaabil masjid (a door from the masjid's doors)
sebuah pintu dari pintu-pintu masjid itu.
Disini masjidnya sudah jelas, tetapi pintu yang dibicarakan belum jelas (belum terdefinisi).
Sebagai ringkasan:
1. Idhofah disebut definitif (ma'rifah), jika mudhof ilaihnya definitif
2. Idhofah disebut belum definitif (nakiroh), jika mudhof ilaihnya belum definitif
Tambahan contoh:
كتاب أستاذ - kitaabu ustaadz : sebuah kitab milik seorang ustadz
idhofah diatas adalah nakiroh.
كتاب الأستاذ - katabbul ustaadz: kitab (tertentu) milik seorang ustadz
idhofah diatas adalah ma'rifah.
سيارة خالد - sayyaratu khaalid : Mobil Khalid (Car of Khalid). Karena semua nama orang dihukumi sebagai definitif, maka idhofah dalam contoh ini adalah ma'rifah.
قلم إستاذي - qolamu ustaadzii: pena ustadzku (the pen of my ustadz). Karena semua kata benda yang diimbuhi pemilik spt: ustadzku (my ustad), adalah defititive, maka idhofah dalam kasus ini adalah definitif (ma'rifah).
Kembali ke ayat 3 surat An-Nashr ini:
بحمد ربك - bi hamdi rabbika: the praise of your Lord: Pujian (milik) Tuhanmu, maka ini juga dihukumi sebagai ma'rifah. Hal ini disebabkan kata rob (Tuhan) ditempeli oleh kata-ganti milik (ka)--> rabbika (Tuhanmu).
Demikian penjelasan tambahan mengenai kasus Ma'rifah / Nakirohnya suatu Idhofah.
Senin, 14 Januari 2008
Topik 72: Latihan Surat An Nashr ayat 3
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita lanjutkan pembahasan kita pada surat An Nashr ayat 3. Baiklah kita tuliskan ayat tersebut.
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
Itu penggalan pertama ayat 3 surat An Nashr. Mari kita ulang-ulang pelajaran-pelajaran yang sudah lalu-lalu.
ف - fa : maka
سبح - sabbih : bertasbihlah !
Disini kita jumpai bentuk fi'il amr (Kata Kerja Perintah). Dari mana tahunya Mas? Masih ingat 6 langkah mudah membuat fi'il amr kan?
Kata sabbih سبّح, ini mengikuti wazan (pola) fa'-'a-la فعّلَ . Kok bisa sih? Ya lihat saja ada tasyid (ّ ) di huruf kedua kan. Berarti ini KKT-2. Masih ingat kan, karakteristik KKT-2? Oke, sekedar refreshing, KKT-2 ini:
- membuat fi'il yang tidak memerlukan objek menjadi memerlukan objek. Contoh dalam bahasa kita: Saya lari. Nah "lari" tidak memerlukan objek. Tetapi kalimat: Saya melarikan istri saya. Nah kata "melarikan" disini adalah KKT-2, karena dia butuh objek.
- membuat fi'il yang memerlukan satu objek menjadi memerlukan 2 objek. Contoh dalam bajasa kita: Saya baca buku. Nah "baca" disini memerlukan satu objek. Tetapi kalimat: Saya membacakan buku buat anak saya. Nah kata "membacakan" disini perlu dua objek, yaitu "buku" dan "anak saya". Kata "baca", adalah KK Asal, sedangkan "membacakan" adalah KKT-2.
Tashrif Ishthilahi
Kita munculkan istilah baru disini: Tashrif Ishthilahi. Apa itu? Tashrif Istilahi yaitu suatu urutan perubahan kata dari KKL, ke KKS, ke Masdhar, dst. Urutan yang umum begini:
(baca dari kanan)
Zaman < Makan < Fi'il Nahy < Fi'il Amr < Maf'ul < Fa'il < Mashdar < KKS < KKL
Kita belum bahas mengenai Isim Makan (tempat), dan Isim Zaman (Waktu). Mungkin yang belum juga, bagaimana membetuk fi'il nahy (kata kerja Larangan). Yang lain sudah kita bahas sebenarnya secara terpisah-pisah.
Oke Isim Makan (tempat) dibentuk dengan menambah mim.
Contoh :
طعم - tho-'a-ma : makan
مطعم - math-'am : tempat makan (restoran)
لعب - la-'i-ba: bermain
ملعب - mal-ab : tempat bermain
Insya Allah kita akan bahas lagi jika bertemu ayat tentang isim makan ini.
Kita kembali fokus ke tasrif isthilahi.
Kita sering mendengar kata: Ayo ber-tasbih. Nah kata TASBIIH itu adalah mashdar dari sabbaha.
Tashrif ishthilahinya begini:
سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)
يسبح - yusabbaha: sedang melakukan tasbih (KKS)
تسبيح - tasbiih : pentasbihan (hal yang berhubungan dengan aktifitas tasbih) (Mashdar)
Hal yang sama dapat kita lihat:
سلّم - sallama : menyelamatkan
تسليم - tasliim : penyelamatan
كفر - kaffara : mengkafirkan
تكفير - takfiir: pengkafiran
رغب - raghghaba : mencintai
ترغيب - targhib : pe-cinta-an (cinta)
قدر - qoddara : men-takdir-kan
تقدير - taqdiir: pentakdiran (takdir)
Dan seterusnya, bentuk mashdar dari KKT-2.
Kembali ke ayat 3, kata sabbih, adalah perubahan ke bentuk fi'il amr. Kalau kita ambil contoh diatas.
Tashrif ishthilahinya begini:
سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)
سبح - sabbih: bertasbihlah ! (fi'il amr)
Hal yang sama dapat kita lihat:
سلّم - sallama : menyelamatkan
سلّم - sallim : selamatkanlah !
كفر - kaffara : mengkafirkan
كفر - kaffir : kafirkanlah !
رغب - raghghaba : mencintai
رغب - raghghib : mencintailah !
قدر - qoddara : men-takdir-kan
قدر - qoddir : takdir-kanlah !
Dan seterusnya.
Sallim
Kadang kita sering mendengar ustadz mengatakan kepada Anaknya:
Ayo Sallim nak... Sallim sama kakek!
Nah kata Sallim disini, maknanya adalah berikan salam. Lho bukannya diatas dikatakan Sallim : Selamatkanlah ! Kok menjadi "bersalamanlah !".
Begini ashal-ushulnya.
Satu kata kerja dalam bahasa Arab, bisa punya banyak makna. Tergantung rangkaian huruf jar yang nempel ke dia. Memang betul asal kata sallama - yusallimu (KKT-2) dari kata:
سلم - salima (KKL) yang artinya: selamat, atau sentosa
Nah KKT-2 dari KKL tsb adalah:
سلّم - sallama (KKT-2) yang artinya: menyelamatkan.
Tetapi kata tersebut akan berubah artinya kalau ada huruf jer yang nempel ke dia, seperti:
زيد سلّم على الأستاذ - Zaid sallama 'alaal ustaadz : Zaid menyalami ustadz.
Terlihat kalau kata Sallama diikuti 'alaa, maka artinya menjadi : memberi salam. Dari sinilah asalnya, mengapa perintah untuk memberi salam itu : Ayo Sallim!
Beberapa hal yang mungkin dari sallama, adalah:
سلّم على - sallama alaa : memberi salam kepada
سلّم من - sallama min : menyelamatkan (sesuatu) dari
سلّم إلى - sallama ilaa: memberikan (sesuatu) ke
سلّم بـ - sallama bi: rela akan (sesuatu)
Terkadang artinya bertolak belakang:
رعب عن - raghiba 'an : benci kepada
رغب في - raghiba fii: cinta kepada
Makna-makna tersebut adalah sima'i (apa yang didengar), atau ditentukan dalam kamus. Tidak terlalu banyak kata kerja yang seperti tersebut (walau tidak bisa dikatakan juga terlalu sedikit). Kebiasaan menggunakan akan melatih kita mengerti makna yang cocok.
Seperti kata raghiba 'an, terdapat dalam satu hadist yang poluper:
فمن رغب عن سنتي فليس مني - fa man raghiba 'an sunnatii falaysa minnii : siapa yang benci kepada Sunnahku (cara hidup Rasulullah SAW), maka dia bukan bagian dariku (bukan bagian dari umat Rasulullah SAW).
Kata raghiba sendiri secara sendiri artinya: mencintai. Tapi kalau bertemu dengan 'an, dia berubah menjadi: membenci.
Sama dengan bahasa Inggriss kan
look = melihat, look after = mengawasi, look for = mencari, dst.
Sebagai penutup untuk topik ini, kita kembali ke ayat 3 surat An-Nashr:
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
Kita telah membahas kata FA SABBIH (SABBIH Fi'il Amr : Kata Kerja Perintah). Insya Allah kita akan lanjutkan ke kata "bihamdi" dst.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita lanjutkan pembahasan kita pada surat An Nashr ayat 3. Baiklah kita tuliskan ayat tersebut.
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
Itu penggalan pertama ayat 3 surat An Nashr. Mari kita ulang-ulang pelajaran-pelajaran yang sudah lalu-lalu.
ف - fa : maka
سبح - sabbih : bertasbihlah !
Disini kita jumpai bentuk fi'il amr (Kata Kerja Perintah). Dari mana tahunya Mas? Masih ingat 6 langkah mudah membuat fi'il amr kan?
Kata sabbih سبّح, ini mengikuti wazan (pola) fa'-'a-la فعّلَ . Kok bisa sih? Ya lihat saja ada tasyid (ّ ) di huruf kedua kan. Berarti ini KKT-2. Masih ingat kan, karakteristik KKT-2? Oke, sekedar refreshing, KKT-2 ini:
- membuat fi'il yang tidak memerlukan objek menjadi memerlukan objek. Contoh dalam bahasa kita: Saya lari. Nah "lari" tidak memerlukan objek. Tetapi kalimat: Saya melarikan istri saya. Nah kata "melarikan" disini adalah KKT-2, karena dia butuh objek.
- membuat fi'il yang memerlukan satu objek menjadi memerlukan 2 objek. Contoh dalam bajasa kita: Saya baca buku. Nah "baca" disini memerlukan satu objek. Tetapi kalimat: Saya membacakan buku buat anak saya. Nah kata "membacakan" disini perlu dua objek, yaitu "buku" dan "anak saya". Kata "baca", adalah KK Asal, sedangkan "membacakan" adalah KKT-2.
Tashrif Ishthilahi
Kita munculkan istilah baru disini: Tashrif Ishthilahi. Apa itu? Tashrif Istilahi yaitu suatu urutan perubahan kata dari KKL, ke KKS, ke Masdhar, dst. Urutan yang umum begini:
(baca dari kanan)
Zaman < Makan < Fi'il Nahy < Fi'il Amr < Maf'ul < Fa'il < Mashdar < KKS < KKL
Kita belum bahas mengenai Isim Makan (tempat), dan Isim Zaman (Waktu). Mungkin yang belum juga, bagaimana membetuk fi'il nahy (kata kerja Larangan). Yang lain sudah kita bahas sebenarnya secara terpisah-pisah.
Oke Isim Makan (tempat) dibentuk dengan menambah mim.
Contoh :
طعم - tho-'a-ma : makan
مطعم - math-'am : tempat makan (restoran)
لعب - la-'i-ba: bermain
ملعب - mal-ab : tempat bermain
Insya Allah kita akan bahas lagi jika bertemu ayat tentang isim makan ini.
Kita kembali fokus ke tasrif isthilahi.
Kita sering mendengar kata: Ayo ber-tasbih. Nah kata TASBIIH itu adalah mashdar dari sabbaha.
Tashrif ishthilahinya begini:
سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)
يسبح - yusabbaha: sedang melakukan tasbih (KKS)
تسبيح - tasbiih : pentasbihan (hal yang berhubungan dengan aktifitas tasbih) (Mashdar)
Hal yang sama dapat kita lihat:
سلّم - sallama : menyelamatkan
تسليم - tasliim : penyelamatan
كفر - kaffara : mengkafirkan
تكفير - takfiir: pengkafiran
رغب - raghghaba : mencintai
ترغيب - targhib : pe-cinta-an (cinta)
قدر - qoddara : men-takdir-kan
تقدير - taqdiir: pentakdiran (takdir)
Dan seterusnya, bentuk mashdar dari KKT-2.
Kembali ke ayat 3, kata sabbih, adalah perubahan ke bentuk fi'il amr. Kalau kita ambil contoh diatas.
Tashrif ishthilahinya begini:
سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)
سبح - sabbih: bertasbihlah ! (fi'il amr)
Hal yang sama dapat kita lihat:
سلّم - sallama : menyelamatkan
سلّم - sallim : selamatkanlah !
كفر - kaffara : mengkafirkan
كفر - kaffir : kafirkanlah !
رغب - raghghaba : mencintai
رغب - raghghib : mencintailah !
قدر - qoddara : men-takdir-kan
قدر - qoddir : takdir-kanlah !
Dan seterusnya.
Sallim
Kadang kita sering mendengar ustadz mengatakan kepada Anaknya:
Ayo Sallim nak... Sallim sama kakek!
Nah kata Sallim disini, maknanya adalah berikan salam. Lho bukannya diatas dikatakan Sallim : Selamatkanlah ! Kok menjadi "bersalamanlah !".
Begini ashal-ushulnya.
Satu kata kerja dalam bahasa Arab, bisa punya banyak makna. Tergantung rangkaian huruf jar yang nempel ke dia. Memang betul asal kata sallama - yusallimu (KKT-2) dari kata:
سلم - salima (KKL) yang artinya: selamat, atau sentosa
Nah KKT-2 dari KKL tsb adalah:
سلّم - sallama (KKT-2) yang artinya: menyelamatkan.
Tetapi kata tersebut akan berubah artinya kalau ada huruf jer yang nempel ke dia, seperti:
زيد سلّم على الأستاذ - Zaid sallama 'alaal ustaadz : Zaid menyalami ustadz.
Terlihat kalau kata Sallama diikuti 'alaa, maka artinya menjadi : memberi salam. Dari sinilah asalnya, mengapa perintah untuk memberi salam itu : Ayo Sallim!
Beberapa hal yang mungkin dari sallama, adalah:
سلّم على - sallama alaa : memberi salam kepada
سلّم من - sallama min : menyelamatkan (sesuatu) dari
سلّم إلى - sallama ilaa: memberikan (sesuatu) ke
سلّم بـ - sallama bi: rela akan (sesuatu)
Terkadang artinya bertolak belakang:
رعب عن - raghiba 'an : benci kepada
رغب في - raghiba fii: cinta kepada
Makna-makna tersebut adalah sima'i (apa yang didengar), atau ditentukan dalam kamus. Tidak terlalu banyak kata kerja yang seperti tersebut (walau tidak bisa dikatakan juga terlalu sedikit). Kebiasaan menggunakan akan melatih kita mengerti makna yang cocok.
Seperti kata raghiba 'an, terdapat dalam satu hadist yang poluper:
فمن رغب عن سنتي فليس مني - fa man raghiba 'an sunnatii falaysa minnii : siapa yang benci kepada Sunnahku (cara hidup Rasulullah SAW), maka dia bukan bagian dariku (bukan bagian dari umat Rasulullah SAW).
Kata raghiba sendiri secara sendiri artinya: mencintai. Tapi kalau bertemu dengan 'an, dia berubah menjadi: membenci.
Sama dengan bahasa Inggriss kan
look = melihat, look after = mengawasi, look for = mencari, dst.
Sebagai penutup untuk topik ini, kita kembali ke ayat 3 surat An-Nashr:
فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu
maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.
Kita telah membahas kata FA SABBIH (SABBIH Fi'il Amr : Kata Kerja Perintah). Insya Allah kita akan lanjutkan ke kata "bihamdi" dst.
Rabu, 09 Januari 2008
Topik 71: Haniifan Musliman
Bismillahirrahmanirrahim
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita seharusnya masuk ke Latihan ayat 3 surat An-Nashr. Tapi sebelum kita masuk kesitu kita tambahkan sedikit contoh-contoh mengenai isim haal.
Singkat cerita: Kira-kira beberapa tahun yang lalu, anak saya bertutur kepada saya tentang sekolah dan teman-temannya. Salah satu yang dia sebutkan adalah bahwa dia punya teman namanya Hanifan (yang kadang kalau di-absen dilafadzkan oleh gurunya: Haniifan).
Waktu itu nama: Haniifan, agak asing ditelinga saya. Kita biasa mendengar nama: Hanif (lurus). Ada teman saya namanya Muhammad Hanif (Muhammad yang punya sifat Lurus). Tapi, Haniifan? Nah ini baru kali ini saya dengar. Waktu itu saya belum begitu mengerti dengan bahasa Arab.
Dalam hati saya hanya ingat: Hmmm... kata Haniifan, itu mungkin diambil dari doa Iftitah:
وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفاً مسلماً - wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal-ardha haniifan musliman.
Waktu itu saya belum bisa meng-artikan teks bahasa Arab (sekarang masih belum juga sih, tapi alhamdulillah sudah bisa dikit-dikit ngeraba-raba ding...) hehe.
Kala itu saya hanya hafal ejaan (latin)nya. Kalau disuruh nulis Arabnya, weleh saat itu pasti gak bisa deh.
Nah, beberapa waktu yang lalu setelah membaca tentang isim haal, dan ciri-cirinya maka saya sekarang jadi faham, bahwa Haniifan dan Musliman itu adalah isim haal.
Jadi jika diartikan secara letterlijk:
وجهت - wajjahtu : aku menghadapkan
وجهي - wajhiya: wajahku
للذي - lil ladzi: kepada Zat yang
فطر - fathara: telah menciptakan
السماوات - as-samaawaati: banyak langit
و - wa: dan
الأرض- al-ardha: bumi
حنيفاً - haniifan: dalam keadaan lurus
مسلما - musliman: dalam keadaan berserah diri (muslim)
Aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang telah menciptakan banyak lagit dan bumi dalam keadaan lurus (lagi) berserah diri.
Nah, terlihat dari Doa Iftitah diatas, bahwa kata Haniifan, adalah isim haal (kata keterangan). Kata Haniifan (dalam keadaan lurus) itu dinisbatkan kepada "Aku". Demikian juga kata Musliman (dalam keadaan berserah diri), juga dinisbatkan kepada "Aku". Artinya kedua kata tersebut menjelaskan kondisi "Aku" sewaktu menghadapkan "wajahku" kepada Allah SWT.
Lihat bahwa ciri-ciri isim haal terpenuhi dimana, yang tampak jelas: dua kata tersebut harokat akhir fathatain (plus ada tambahan alif diakhir), dan juga jika kata itu dibuang maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada+khobar).
"Ooo... Nama anak itu bukan Hanif, tapi Haniifan, itu mungkin maksud orang tuanya, agar anaknya itu senantiasa dalam kondisi yang lurus", begitu gumam saya dalam hati. Penekanannya adalah "dalam kondisi", karena itu isim haal. "Hmm... pasti bapaknya jago bahasa Arab", kata saya.
Sebagai penutup kita ambil contoh dalam Al-Quran yaitu kata WAHN (Lemah)
وهن - wahnun atau wahn adalah kata sifat (isim shifat) yang artinya lemah.
Di Al-Quran diperintahkan agar manusia menghormati dan berbuat baik kepada Ibu & Bapak. Ibu kita telah mengandung dalam keadaan "wahnan 'alaa wahnin" - lemah diatas lemah (lemah yang super).
حملته أمه وهنا على وهنِ - hamalat hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin
hamalat: Dia (ibu) telah mengandung (manusia)
wahnan : dalam keadaan lemah
'alaa wahnin: diatas lemah
Sekali lagi terlihat bahwa kata wahnan diatas, ada tambahan alif dan harokat akhir fathhatain, maka dapat "dipastikan" ini adalah isim haal (kata keterangan terhadap kondisi si Ibu pada saat hamil).
Demikian telah kita tuntaskan pembahasan mengenai isim haal ini. Insya Allah kita lanjutkan dengan Latihan surat An-Nashr kembali.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita seharusnya masuk ke Latihan ayat 3 surat An-Nashr. Tapi sebelum kita masuk kesitu kita tambahkan sedikit contoh-contoh mengenai isim haal.
Singkat cerita: Kira-kira beberapa tahun yang lalu, anak saya bertutur kepada saya tentang sekolah dan teman-temannya. Salah satu yang dia sebutkan adalah bahwa dia punya teman namanya Hanifan (yang kadang kalau di-absen dilafadzkan oleh gurunya: Haniifan).
Waktu itu nama: Haniifan, agak asing ditelinga saya. Kita biasa mendengar nama: Hanif (lurus). Ada teman saya namanya Muhammad Hanif (Muhammad yang punya sifat Lurus). Tapi, Haniifan? Nah ini baru kali ini saya dengar. Waktu itu saya belum begitu mengerti dengan bahasa Arab.
Dalam hati saya hanya ingat: Hmmm... kata Haniifan, itu mungkin diambil dari doa Iftitah:
وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفاً مسلماً - wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal-ardha haniifan musliman.
Waktu itu saya belum bisa meng-artikan teks bahasa Arab (sekarang masih belum juga sih, tapi alhamdulillah sudah bisa dikit-dikit ngeraba-raba ding...) hehe.
Kala itu saya hanya hafal ejaan (latin)nya. Kalau disuruh nulis Arabnya, weleh saat itu pasti gak bisa deh.
Nah, beberapa waktu yang lalu setelah membaca tentang isim haal, dan ciri-cirinya maka saya sekarang jadi faham, bahwa Haniifan dan Musliman itu adalah isim haal.
Jadi jika diartikan secara letterlijk:
وجهت - wajjahtu : aku menghadapkan
وجهي - wajhiya: wajahku
للذي - lil ladzi: kepada Zat yang
فطر - fathara: telah menciptakan
السماوات - as-samaawaati: banyak langit
و - wa: dan
الأرض- al-ardha: bumi
حنيفاً - haniifan: dalam keadaan lurus
مسلما - musliman: dalam keadaan berserah diri (muslim)
Aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang telah menciptakan banyak lagit dan bumi dalam keadaan lurus (lagi) berserah diri.
Nah, terlihat dari Doa Iftitah diatas, bahwa kata Haniifan, adalah isim haal (kata keterangan). Kata Haniifan (dalam keadaan lurus) itu dinisbatkan kepada "Aku". Demikian juga kata Musliman (dalam keadaan berserah diri), juga dinisbatkan kepada "Aku". Artinya kedua kata tersebut menjelaskan kondisi "Aku" sewaktu menghadapkan "wajahku" kepada Allah SWT.
Lihat bahwa ciri-ciri isim haal terpenuhi dimana, yang tampak jelas: dua kata tersebut harokat akhir fathatain (plus ada tambahan alif diakhir), dan juga jika kata itu dibuang maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada+khobar).
"Ooo... Nama anak itu bukan Hanif, tapi Haniifan, itu mungkin maksud orang tuanya, agar anaknya itu senantiasa dalam kondisi yang lurus", begitu gumam saya dalam hati. Penekanannya adalah "dalam kondisi", karena itu isim haal. "Hmm... pasti bapaknya jago bahasa Arab", kata saya.
Sebagai penutup kita ambil contoh dalam Al-Quran yaitu kata WAHN (Lemah)
وهن - wahnun atau wahn adalah kata sifat (isim shifat) yang artinya lemah.
Di Al-Quran diperintahkan agar manusia menghormati dan berbuat baik kepada Ibu & Bapak. Ibu kita telah mengandung dalam keadaan "wahnan 'alaa wahnin" - lemah diatas lemah (lemah yang super).
حملته أمه وهنا على وهنِ - hamalat hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin
hamalat: Dia (ibu) telah mengandung (manusia)
wahnan : dalam keadaan lemah
'alaa wahnin: diatas lemah
Sekali lagi terlihat bahwa kata wahnan diatas, ada tambahan alif dan harokat akhir fathhatain, maka dapat "dipastikan" ini adalah isim haal (kata keterangan terhadap kondisi si Ibu pada saat hamil).
Demikian telah kita tuntaskan pembahasan mengenai isim haal ini. Insya Allah kita lanjutkan dengan Latihan surat An-Nashr kembali.
Senin, 07 Januari 2008
Topik 70: Latihan Surat An-Nashr ayat 2, Adverb
Bisimillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah, kita akan masuk ke ayat 2 surat An-Nashr. Pada ayat ini kita akan fokuskan pembahasannya mengenai Kata Keterangan.
Baiklah kita mulai. Ayat 2 berbunyi:
ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan
wa= dan
ra-aita= engkau lihat
an-naasa= manusia
yadkhuluuna= mereka memasuki
fii= kedalam
diini Allahi= agama Allah
afwaajan= secara berbondong-bondong (dalam keadaan berbondong-bondong)
Oke baiklah ada dua point yang bisa kita lihat disini yaitu:
diini Allahi (dibaca sambung diinillahi), yaitu mengulang mudhof, dan
afwaajan= secara berbondong-bondong, yaitu Kata Keterangan.
دين الله - Diinillahi
Kata ini adalah mudhof. Dimana mudhofnya دين - diini dan mudhof ilaih nya الله - Allahi. Ingat lagi ciri-ciri mudhof yaitu:
- Jika ada 2 kata benda yang berdekatan,
- Kata benda pertama nakiroh (umum, dengan ciri tidak ada tanwin)
- Kata benda kedua harokat akhir kasrah, atau kasratain
Kata diatas memenuhi 3 syarat tsb, yaitu:
- ada 2 kata benda yang berdekatan (betul)
- Kata benda pertama nakiroh (betul), jadi bukan ma'rifah (الدين-ad-diini)
- Kata benda kedua harokat akhir kasroh (betul), jadi Allahi, bukan Allahu, atau Allaha.
Baiklah, kita akan tinggalkan dulu mengenai mudhof. Ada topik lain dari mudhof ini yaitu mengenai ke ma'rifatan atau ke-nakirohan mudhof (bingung kan?) Hehe... Insya Allah kita bahas pada topik berikut. Sekarang kita masuk ke kata keterangan.
Isim Haal
Apa itu isim haal? Lihat contoh diatas.
ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan
afwaajan: secara berbondong-bondong, atau dalam bahasa Inggris-nya in-crowd.
Nah, kata afwajaan ini adalah isim haal, yaitu isim yang menjelaskan suatu keadaan (al-haal) dari Subjek, maupun Objek. Hmm... entar... cerna dulu nih...
Agak sedikit beda dengan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, kata keterangan itu yang biasa disebut adverb, biasanya melekat kepada kata kerja. Artinya menjelaskan bagaimana pekerjaan itu dilakukan, atau kualitas dari pekerjaan itu.
Seperti:
Talk to me softly please : Tolong dong, bicara sama saya dengan lembut.
Nah softly itu menjelaskan talk (bicara). Dalam bahasa Inggris kata keterangan "dengan lembut" itu dinisbatkan (di-referensi-kan) kepada kata kerja (verb/fi'il) talk.
Dalam bahasa Arab, kata keterangan itu umumnya dinisbatkan kepada pelaku/subjek (fa'il) atau kepada objek/korban (maf'ul).
Coba perhatikan lagi:
يسافرون إلى جاكرتا أفواجا - yusaafiruuna ilaa Jakarta afwaajan
Mereka berpergian ke Jakarta secara berbondong-bondong.
Atau dalam Al-Quran, sewaktu Allah memerintahkan Adam & Siti Hawa & Para Iblis turun:
احبطوا منها جميعا - ihbithuu minha jamii'an
Turunlah (kalian) dari syurga ini secara bersama-sama
Terlihat disitu kata جميعا - jamii'an adalah isim haal.
Lalu bagaimana kita tahu bahwa itu isim haal?
Ini beberapa ciri isim haal:
1. Kalau isim haal itu dibuang, maka kalimatnya masih kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada'+khobar)
2. Isim haal itu nakiroh (tidak ada al), dan nashob (fathhatain)
3. Isim haal itu biasanya dibentuk dari kata sifat (yang berasal dari isim fa'il, isim maf'ul, maupun kata benda yang dianggap sifat).
Contohnya begini:
ذهب إلى البيت راكبا - dzahaba ila al-bayti raakiban
Dia pergi ke rumah itu dengan menaiki kendaraan.
Lihat bahwa kata راكبا - raakiban, adalah isim fa'il dari KKL ركب - rakaba (menaiki, menunggangi). Perhatikan bahwa kalau kata raakiban itu dibuang, maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna:
ذهب إلى البيت - dzahaba ila al-bayti
Dia pergi ke rumah itu
Ini adalah kalimat sempurna, karena telah ada fi'il (pergi) + fa'il (dia), walau fa'il disini adalah fa'il tersembunyi.
Terkadang, isim haal itu dinisbatkan kepada Objek, contoh:
جلق الله الإنسان ضعيفا - khalaqa Allahu an-insaana dho'iifan
Allah menciptakan manusia dalam keadaan lemah.
Kata dho'iifan disini adalah isim haal (kata keterangan) bagi Objek (yaitu manusia).
Kata dho'iif disini adalah kata shifat yang menyerupai isim fa'il. Nah, karena dia nashob, tidak ada al, dan layak diberi makna: dalam keadaan ...., maka dia adalah isim haal.
Sederhanya sih sebenarnya mengetahui apakah dia isim haal atau bukan.
Oke ya, demikian dulu sudah kita selesaikan penjelasan dari ayat 2 surat An-Nashr ini.
Insya Allah kita akan lanjutkan dulu dengan kembali membahas masalah mudhof, tapi kali ini lebih seru lagi.
Pembaca yang dirahmati Allah, kita akan masuk ke ayat 2 surat An-Nashr. Pada ayat ini kita akan fokuskan pembahasannya mengenai Kata Keterangan.
Baiklah kita mulai. Ayat 2 berbunyi:
ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan
wa= dan
ra-aita= engkau lihat
an-naasa= manusia
yadkhuluuna= mereka memasuki
fii= kedalam
diini Allahi= agama Allah
afwaajan= secara berbondong-bondong (dalam keadaan berbondong-bondong)
Oke baiklah ada dua point yang bisa kita lihat disini yaitu:
diini Allahi (dibaca sambung diinillahi), yaitu mengulang mudhof, dan
afwaajan= secara berbondong-bondong, yaitu Kata Keterangan.
دين الله - Diinillahi
Kata ini adalah mudhof. Dimana mudhofnya دين - diini dan mudhof ilaih nya الله - Allahi. Ingat lagi ciri-ciri mudhof yaitu:
- Jika ada 2 kata benda yang berdekatan,
- Kata benda pertama nakiroh (umum, dengan ciri tidak ada tanwin)
- Kata benda kedua harokat akhir kasrah, atau kasratain
Kata diatas memenuhi 3 syarat tsb, yaitu:
- ada 2 kata benda yang berdekatan (betul)
- Kata benda pertama nakiroh (betul), jadi bukan ma'rifah (الدين-ad-diini)
- Kata benda kedua harokat akhir kasroh (betul), jadi Allahi, bukan Allahu, atau Allaha.
Baiklah, kita akan tinggalkan dulu mengenai mudhof. Ada topik lain dari mudhof ini yaitu mengenai ke ma'rifatan atau ke-nakirohan mudhof (bingung kan?) Hehe... Insya Allah kita bahas pada topik berikut. Sekarang kita masuk ke kata keterangan.
Isim Haal
Apa itu isim haal? Lihat contoh diatas.
ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan
afwaajan: secara berbondong-bondong, atau dalam bahasa Inggris-nya in-crowd.
Nah, kata afwajaan ini adalah isim haal, yaitu isim yang menjelaskan suatu keadaan (al-haal) dari Subjek, maupun Objek. Hmm... entar... cerna dulu nih...
Agak sedikit beda dengan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, kata keterangan itu yang biasa disebut adverb, biasanya melekat kepada kata kerja. Artinya menjelaskan bagaimana pekerjaan itu dilakukan, atau kualitas dari pekerjaan itu.
Seperti:
Talk to me softly please : Tolong dong, bicara sama saya dengan lembut.
Nah softly itu menjelaskan talk (bicara). Dalam bahasa Inggris kata keterangan "dengan lembut" itu dinisbatkan (di-referensi-kan) kepada kata kerja (verb/fi'il) talk.
Dalam bahasa Arab, kata keterangan itu umumnya dinisbatkan kepada pelaku/subjek (fa'il) atau kepada objek/korban (maf'ul).
Coba perhatikan lagi:
يسافرون إلى جاكرتا أفواجا - yusaafiruuna ilaa Jakarta afwaajan
Mereka berpergian ke Jakarta secara berbondong-bondong.
Atau dalam Al-Quran, sewaktu Allah memerintahkan Adam & Siti Hawa & Para Iblis turun:
احبطوا منها جميعا - ihbithuu minha jamii'an
Turunlah (kalian) dari syurga ini secara bersama-sama
Terlihat disitu kata جميعا - jamii'an adalah isim haal.
Lalu bagaimana kita tahu bahwa itu isim haal?
Ini beberapa ciri isim haal:
1. Kalau isim haal itu dibuang, maka kalimatnya masih kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada'+khobar)
2. Isim haal itu nakiroh (tidak ada al), dan nashob (fathhatain)
3. Isim haal itu biasanya dibentuk dari kata sifat (yang berasal dari isim fa'il, isim maf'ul, maupun kata benda yang dianggap sifat).
Contohnya begini:
ذهب إلى البيت راكبا - dzahaba ila al-bayti raakiban
Dia pergi ke rumah itu dengan menaiki kendaraan.
Lihat bahwa kata راكبا - raakiban, adalah isim fa'il dari KKL ركب - rakaba (menaiki, menunggangi). Perhatikan bahwa kalau kata raakiban itu dibuang, maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna:
ذهب إلى البيت - dzahaba ila al-bayti
Dia pergi ke rumah itu
Ini adalah kalimat sempurna, karena telah ada fi'il (pergi) + fa'il (dia), walau fa'il disini adalah fa'il tersembunyi.
Terkadang, isim haal itu dinisbatkan kepada Objek, contoh:
جلق الله الإنسان ضعيفا - khalaqa Allahu an-insaana dho'iifan
Allah menciptakan manusia dalam keadaan lemah.
Kata dho'iifan disini adalah isim haal (kata keterangan) bagi Objek (yaitu manusia).
Kata dho'iif disini adalah kata shifat yang menyerupai isim fa'il. Nah, karena dia nashob, tidak ada al, dan layak diberi makna: dalam keadaan ...., maka dia adalah isim haal.
Sederhanya sih sebenarnya mengetahui apakah dia isim haal atau bukan.
Oke ya, demikian dulu sudah kita selesaikan penjelasan dari ayat 2 surat An-Nashr ini.
Insya Allah kita akan lanjutkan dulu dengan kembali membahas masalah mudhof, tapi kali ini lebih seru lagi.
Jumat, 28 Desember 2007
Topik 69: Mudhof Ilaih (Lanjutan) - Pembesar Penjahat
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Seharusnya kita masuk ke surat An-Nashr ayat 2, untuk kita membahas masalah isim haal atau adverb (Kata Keterangan). Akan tetapi kita tambahkan sedikit mengenai Mudhof di topik 69 ini. Biar tuntas gituh... (karena rasanya masih ada yang perlu saya sampaikan).
Oke baiklah. Sekarang quiz dikit:
Apa bahasa Arabnya: The house of the big man is nice.
Jawab: Bahasa Arabnya:
بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)
Bahasa Indonesia-nya:
Rumah laki-laki yang besar itu bagus.
Nah, yang menarik bagi saya (atawa kita-kita yang masih pemula ini adalah), bahwa bahasa Inggris maupun bahasa Arab, tidak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi:
1. Objek
2. Pemilik dari Objek
3. Sifat dari Pemilik Objek
4. Sifat dari Objek
Eh eh... kok rumit seh??? Ehm... maksudnya begini.
Coba baca kalimat ini:
Rumah laki-laki yang besar itu bagus.
Apa yang besar dan apa yang bagus? Apakah yang besar laki-lakinya atau rumahnya? Yang hampir pasti tidak menimbulkan keraguan bahwa kata "bagus" dalam kalimat diatas, tentulah sifat untuk Rumah. Bener kan? Tapi bagaimana dengan kata "besar". Mensifati siapakah/apakah kata "besar" disini?
Kalau ditelisik dari struktur bahasa Inggris-nya, kita tidak menemui kesulitan:
The house of the big man is nice.
Terlihat yang "big" (besar) itu sifat dari "man" (laki-laki), sedangkan "nice" (bagus) itu sifat dari "house" (rumah).
Jelas bahwa:
1. Objek: The house
2. Pemilik dari Objek: the man
3. Sifat dari Pemilik : big
4. Sifat dari Objek: is nice
So, kita mudah sekali menentukan 4 hal itu bukan?
Lalu dalam bahasa Arab, juga mudah.
بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)
1. Objek: بستُ baytu
2. Pemilik dari Objek: الرجلِ ar-rajuli
3. Sifat dari Pemilik : الكبير al-kabiiri
4. Sifat dari Objek: جميلٌ - jamiilun
Dari keterangan diatas kita bisa pelajari bahwa, susunan (Objek+Pemilik Objek)rangkaian ini menjadi kata majemuk (mudhof), dimana bisa diterjemahkan sebagai Objek "OF" Pemilik Objek.
Dalam contoh diatas:
بيتُ الرجلِ - baytul rajuli -- house of the man -- rumah milik laki-laki itu
Adanya tambahan al-kabiiri الكبير - disini menjadi sifat dari the man Al-Rajul. Tahunya dari mana? Entar dulu, kok bisa tahu sih? Jawabnya: Karena sama-sama ada AL (lihat AL-Rajuli & AL-Kabiiri) alias sama-sama definitif/ma'rifah, dan sama-sama ber-i'rob (harokat akhir) kasroh [yaitu rajulI dan kabiirI). Sehingga menjadi:
الرجلِ الكبيرِ - al-rajuli al-kabiiri (laki-laki yang besar itu)
Karena 2 faktor itu (sama i'rob, dan sama ma'rifah) --> dipastikan kabiir itu sifat dari rajul.
Akan tetapi kalau i'rob beda:
الرجلِ الكبيرُ - Al-Rajuli Al-Kabiiru --> karena i'rob kabiir adalah dhommah (kabiiru), berbeda dengan rajul yang kasroh (rajuli) --> maka kabiir disini bukan sifat dari rajul lagi. Jika ini kasusnya maka kabiir menjadi sifat dari baitu (rumah).
Sehingga kalau ditulis:
بيتُ الرجلِ الكبيرُ - baytu al-rajuli al-kabiiru
The house of the man is big. Rumah milik laki-laki itu besar.
Disini kabiir berfungsi sebagai sifat dari rumah, bukan laki-laki lagi.
Terlihat bahwa pengetahuan mengenai i'rob menjadi penting dalam menentukan fungsi dan kedudukan suatu kata. Kita sudah lihat dengan merubah i'rob kabiir, dari kabiiri menjadi kabiiru, maka dia berubah fungsi, yang awalnya sebagai sifat dari Pemilik Objek (the man), menjadi sifat objeknya (the house). Itulah inti pelajaran nahwu. Makanya isinya pelajaran nahwu, itu adalah mengetahui i'rob. Karena beda i'rob, maka beda arti.
Saya pernah dikasih kuiz oleh teman saya namanya Habib Fahmi. Coba menurut antum kata-kata dalam surat 6 ayat 123, yaitu أكابر مجرميها - akaabira mujrimiiha:
a. Penjahat-penjahat yang terbesar
b. Pembesar-pembesar Penjahat
Saya jawab: b. Alasan saya, karena kata akaabira mujrimiiha itu adalah kata majemuk, dimana:
mudhof (Objek): akaabira = pembesar-pembesar
mudhof ilaih (Pemilik Objek): mujrimiiha = (pen)jahat
Saya bilang ke teman saya, fokus nya adalah Objeknya dong: yaitu pembesar-pembesar.
Lalu teman saya itu mengatakan: Antum kayaknya salah. Coba check Quran terjemahan. Disitu diterjemahkan: Penjahat-penjahat terbesar. Saya check di Al-Quran digital di komputer saya, eh bener begitu diterjemahin, sbb:
6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
Hhmm saya sungguh penasaran. Lalu setelah memeriksa beberapa kitab tafsir (seperti Ibnu Katsir, dll), memang jelas bahwa yang dimaksud atau dituju oleh ayat itu adalah pembesar-pembesar (penguasa negeri atau raja-raja -red). Artinya terjemahan bebasnya: Pembesar-Pembesar Penjahat.
Kalau dipakai kaidah "OF/milik dari", maka bisa jadi artinya, pembesar2x milik penjahat, raja-raja milik penjahat. Ini bisa bermakna 2 hal(maaf ini ta'wil saya saja, tidak ada landasan ilmiahnya), 1) raja-raja milik penjahat, artinya raja suatu negeri yang sudah dikuasai oleh penjahat, atau raja suatu negri yang sudah bersekongkol dengan penjahat, atau 2) kelompok penjahat yang memiliki ketua. Jika arti kedua ini yang dipakai, maka sesungguhnya, terjemahan dari versi Quran yang banyak beredar tidak masalah. Karena antara penguasa suatu negri, tidak ada kaitan dengan ketua penjahat.
Masalahnya, kalau artinya yang pertama? Jika arti yang pertama, maka bisa berabe juga. Karena dengan pengertian ini terkandung makna, pembesar-pembesar (raja suatu negri), punya potensi berbuat yang tidak baik, sehingga menjadi penjahat. Sehingga dia dinobatkan sebagai raja (negeri itu) plus sekalian raja penjahat. Dalam kasus ini, raja itu sekaligus penjahat (beda dengan yang tadi, antara raja dan penjahat, dua orang yang berbeda).
Dengan model terjamah letterleijk (pakai kaidah Mudhof+Mudhof Ilaih), ayat itu menjadi sbb:
6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri Pembesar-pembesar (raja2x) Penjahat, agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
Allahu a'lam. Saya tidak ingin menta'wil terlalu jauh. Lagi pula, kita hanya membahas masalah kaidah penerjemahan mudhof, kan... Yang ingin saya sampaikan, pengetahuan mengenai mudhof ini membantu "menajamkan" terjemahan yang pas. Lihat bahwa dalam kasus 6:123 diatas, dengan menggunakan kaidah mudhof ini, lebih mendekati kepada apa yang tertulis dalam kitab-kitab tafsir tentang ayat ini. Allahu a'lam (bisa jadi saya salah).
Oke, sampai disini dulu ya... Insya Allah kita akan lanjutkan.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Seharusnya kita masuk ke surat An-Nashr ayat 2, untuk kita membahas masalah isim haal atau adverb (Kata Keterangan). Akan tetapi kita tambahkan sedikit mengenai Mudhof di topik 69 ini. Biar tuntas gituh... (karena rasanya masih ada yang perlu saya sampaikan).
Oke baiklah. Sekarang quiz dikit:
Apa bahasa Arabnya: The house of the big man is nice.
Jawab: Bahasa Arabnya:
بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)
Bahasa Indonesia-nya:
Rumah laki-laki yang besar itu bagus.
Nah, yang menarik bagi saya (atawa kita-kita yang masih pemula ini adalah), bahwa bahasa Inggris maupun bahasa Arab, tidak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi:
1. Objek
2. Pemilik dari Objek
3. Sifat dari Pemilik Objek
4. Sifat dari Objek
Eh eh... kok rumit seh??? Ehm... maksudnya begini.
Coba baca kalimat ini:
Rumah laki-laki yang besar itu bagus.
Apa yang besar dan apa yang bagus? Apakah yang besar laki-lakinya atau rumahnya? Yang hampir pasti tidak menimbulkan keraguan bahwa kata "bagus" dalam kalimat diatas, tentulah sifat untuk Rumah. Bener kan? Tapi bagaimana dengan kata "besar". Mensifati siapakah/apakah kata "besar" disini?
Kalau ditelisik dari struktur bahasa Inggris-nya, kita tidak menemui kesulitan:
The house of the big man is nice.
Terlihat yang "big" (besar) itu sifat dari "man" (laki-laki), sedangkan "nice" (bagus) itu sifat dari "house" (rumah).
Jelas bahwa:
1. Objek: The house
2. Pemilik dari Objek: the man
3. Sifat dari Pemilik : big
4. Sifat dari Objek: is nice
So, kita mudah sekali menentukan 4 hal itu bukan?
Lalu dalam bahasa Arab, juga mudah.
بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)
1. Objek: بستُ baytu
2. Pemilik dari Objek: الرجلِ ar-rajuli
3. Sifat dari Pemilik : الكبير al-kabiiri
4. Sifat dari Objek: جميلٌ - jamiilun
Dari keterangan diatas kita bisa pelajari bahwa, susunan (Objek+Pemilik Objek)rangkaian ini menjadi kata majemuk (mudhof), dimana bisa diterjemahkan sebagai Objek "OF" Pemilik Objek.
Dalam contoh diatas:
بيتُ الرجلِ - baytul rajuli -- house of the man -- rumah milik laki-laki itu
Adanya tambahan al-kabiiri الكبير - disini menjadi sifat dari the man Al-Rajul. Tahunya dari mana? Entar dulu, kok bisa tahu sih? Jawabnya: Karena sama-sama ada AL (lihat AL-Rajuli & AL-Kabiiri) alias sama-sama definitif/ma'rifah, dan sama-sama ber-i'rob (harokat akhir) kasroh [yaitu rajulI dan kabiirI). Sehingga menjadi:
الرجلِ الكبيرِ - al-rajuli al-kabiiri (laki-laki yang besar itu)
Karena 2 faktor itu (sama i'rob, dan sama ma'rifah) --> dipastikan kabiir itu sifat dari rajul.
Akan tetapi kalau i'rob beda:
الرجلِ الكبيرُ - Al-Rajuli Al-Kabiiru --> karena i'rob kabiir adalah dhommah (kabiiru), berbeda dengan rajul yang kasroh (rajuli) --> maka kabiir disini bukan sifat dari rajul lagi. Jika ini kasusnya maka kabiir menjadi sifat dari baitu (rumah).
Sehingga kalau ditulis:
بيتُ الرجلِ الكبيرُ - baytu al-rajuli al-kabiiru
The house of the man is big. Rumah milik laki-laki itu besar.
Disini kabiir berfungsi sebagai sifat dari rumah, bukan laki-laki lagi.
Terlihat bahwa pengetahuan mengenai i'rob menjadi penting dalam menentukan fungsi dan kedudukan suatu kata. Kita sudah lihat dengan merubah i'rob kabiir, dari kabiiri menjadi kabiiru, maka dia berubah fungsi, yang awalnya sebagai sifat dari Pemilik Objek (the man), menjadi sifat objeknya (the house). Itulah inti pelajaran nahwu. Makanya isinya pelajaran nahwu, itu adalah mengetahui i'rob. Karena beda i'rob, maka beda arti.
Saya pernah dikasih kuiz oleh teman saya namanya Habib Fahmi. Coba menurut antum kata-kata dalam surat 6 ayat 123, yaitu أكابر مجرميها - akaabira mujrimiiha:
a. Penjahat-penjahat yang terbesar
b. Pembesar-pembesar Penjahat
Saya jawab: b. Alasan saya, karena kata akaabira mujrimiiha itu adalah kata majemuk, dimana:
mudhof (Objek): akaabira = pembesar-pembesar
mudhof ilaih (Pemilik Objek): mujrimiiha = (pen)jahat
Saya bilang ke teman saya, fokus nya adalah Objeknya dong: yaitu pembesar-pembesar.
Lalu teman saya itu mengatakan: Antum kayaknya salah. Coba check Quran terjemahan. Disitu diterjemahkan: Penjahat-penjahat terbesar. Saya check di Al-Quran digital di komputer saya, eh bener begitu diterjemahin, sbb:
6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
Hhmm saya sungguh penasaran. Lalu setelah memeriksa beberapa kitab tafsir (seperti Ibnu Katsir, dll), memang jelas bahwa yang dimaksud atau dituju oleh ayat itu adalah pembesar-pembesar (penguasa negeri atau raja-raja -red). Artinya terjemahan bebasnya: Pembesar-Pembesar Penjahat.
Kalau dipakai kaidah "OF/milik dari", maka bisa jadi artinya, pembesar2x milik penjahat, raja-raja milik penjahat. Ini bisa bermakna 2 hal(maaf ini ta'wil saya saja, tidak ada landasan ilmiahnya), 1) raja-raja milik penjahat, artinya raja suatu negeri yang sudah dikuasai oleh penjahat, atau raja suatu negri yang sudah bersekongkol dengan penjahat, atau 2) kelompok penjahat yang memiliki ketua. Jika arti kedua ini yang dipakai, maka sesungguhnya, terjemahan dari versi Quran yang banyak beredar tidak masalah. Karena antara penguasa suatu negri, tidak ada kaitan dengan ketua penjahat.
Masalahnya, kalau artinya yang pertama? Jika arti yang pertama, maka bisa berabe juga. Karena dengan pengertian ini terkandung makna, pembesar-pembesar (raja suatu negri), punya potensi berbuat yang tidak baik, sehingga menjadi penjahat. Sehingga dia dinobatkan sebagai raja (negeri itu) plus sekalian raja penjahat. Dalam kasus ini, raja itu sekaligus penjahat (beda dengan yang tadi, antara raja dan penjahat, dua orang yang berbeda).
Dengan model terjamah letterleijk (pakai kaidah Mudhof+Mudhof Ilaih), ayat itu menjadi sbb:
6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri Pembesar-pembesar (raja2x) Penjahat, agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
Allahu a'lam. Saya tidak ingin menta'wil terlalu jauh. Lagi pula, kita hanya membahas masalah kaidah penerjemahan mudhof, kan... Yang ingin saya sampaikan, pengetahuan mengenai mudhof ini membantu "menajamkan" terjemahan yang pas. Lihat bahwa dalam kasus 6:123 diatas, dengan menggunakan kaidah mudhof ini, lebih mendekati kepada apa yang tertulis dalam kitab-kitab tafsir tentang ayat ini. Allahu a'lam (bisa jadi saya salah).
Oke, sampai disini dulu ya... Insya Allah kita akan lanjutkan.
Selasa, 25 Desember 2007
Topik 68: Mengulang Mudhof Ilaih
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan membahas mengenai surat An-Nashr. Baiklah kita mulai.
إذا جاء نصر الله والفتح - idza jaa-a nasru allahi wa al-fathu
idza: jika
jaa-a: telah datang
nasrullahi: pertolongan Allah (Help of Allah)
wa: dan
al-fathu: kemenangan (victory)
Pembaca yang dirahmati Allah, ada yang perlu kita ulang-ulang disini yaitu bentuk dari Mudhof Ilaih. Sudah kita singgung di beberapa topik yang lalu, akan tetapi kita ulang lagi disini, biar lebih mantafff getoh...
Oke. Perhatikan kalimat diatas. Pertama, kita analisis dulu struktur kalimatnya. Oke, kalimat diatas terdiri dari kata penghubung idza (إذا). Sekarang kalau kita buang kata idza kalimat tersebut akan menjadi:
جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu
Disini kita bertemu dengan kalimat fi'iliyyah (jumlah fi'liyyah). Eh ngomong2x kita pernah bahas gak ya pembagian kalimat (aqsam al-jumlah) dalam bahasa Arab? Belum atau sudah ya (maaf saya lupa, maklum udah umuran).
Hmm anggaplah belum ya. Oke. Dalam bahasa Arab, kalimat dibagi 2, yaitu:
1. Jumlah Fi'liyyah (kalimat yang dimulai kata kerja)
2. Jumlah Ismiyyah (kalimat yang dimulai dengan kata benda)
Nah kalimat جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu , ini adalah kalimat fi'liyyah, karena dimulai dengan Kata Kerja, yaitu KKL jaa-a (datang). Siapa yang datang? Ingat setiap fi'il (Kata Kerja) membutuhkan fa'il (pelaku alias subjek). Subjeknya biasanya setelah fi'ilnya.
Kalimat diatas subjeknya adalah نصر الله والفتح - nasrullahi wal fathu. Itulah subjeknya.
Secara umum banyak pola kalimat dalam bahasa Arab, dimana dia dibentuk dari jumlah fi'liyyah. Contohnya:
ضرب زيدٌ - dhoroba zaidun : Zaid telah memukul (jumlah fi'liyyah)
Agak sedikit beda dengan bahasa kita. Kalau kita letterleijk menerjemahkan kalimat diatas, maka mestinya, di terjemahkan "Telah memukul (sesuatu) si Zaid". Bedanya adalah dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat itu diawali dengan Pelaku diikuti kata kerja. Sehingga kalau mengikuti ini kalimat diatas menjadi:
زيدٌ ضرب - Zaidun dhoraba : Zaid telah memukul (jumlah ismiyyah).
Perhatikan bahwa Kalimat diatas telah berubah menjadi jumlah ismiyyah. Dalam bahasa Indonesia kita tidak memiliki "kebebasan" seperti dalam bahasa Arab diatas.
Contohnya:
Zaid menulis --> (betul secara bahasa Indonesia). Dalam bahasa Arab: زيدٌ كتب - Zaidun kataba.
Menulis Zaid --> (salah secara bahasa Indonesia). Sedangkan dalam bahasa Arabnya tetap benar, yaitu كتب زيدٌ - kataba zaidun.
Disitu letak bedanya. Di bahasa Arab, posisi subjek boleh sebelum kata kerja, atau setelahnya.
Oke. Kembali ke topik utama... Kita mau bahas mengenai Mudhof Ilaih.
Perhatikan kata نصرُ اللهِ - nashru Allahi (dibaca cepat nashrullohi). Inilah dia mudhof (kata majemuk). Pas belajar ini saya sendiri juga rada bingung dengan definisi kata majemuk. Oke, tinggalkan yang susah, ambil yang mudah, pakai cara saya saja. Hehe...
Paling gampang belajar mudhof ini kalau kita mengerti struktur bahasa Inggris, tentang kepunyaan.
Misal kita katakan begini.
Umar's book (buku milik si Umar). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:
book of Umar (buku milik si Umar).
Nah bentuk: book of Umar ini lah yang disebut Mudhof, dalam bahasa Arab.
Contoh lain:
Allah's messenger (Rasul milik Allah / Rasul Allah). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:
Messenger of Allah.
Bagaimana bahasa Arab nya : Messenger of Allah?
Oke.
Messenger : رسولٌ - rasuulun
Allah: اللهُ - Allahu
Sehingga messenger of Allah = رسولُ اللهِ - Rasuulullahi.
Hmm... bentar-bentar kok bukan: رسولٌ اللهُ - Rasuulun Allahu (atau Rasuulullahu)?
Nah disini aturannya muncul (weleh aturan lagi... aturan lagi). Tenang, banyak latihan saja. Aturan gak usah dihafalin.
Kata rasuulun disebut mudhof, sedangkan kata Allahu disebut mudhof ilaih. Aturannya, Mudhof itu tidak boleh bertanwin, sehingga rasuulun harus dhommah saja menjadi rasuulu. Trus, mudhof ilaihi itu harus kasroh. Sehingga Allahu menjadi Allahi. Udah deh, cuman 2 itu aturannyanya... gampang kan.
Contoh lain:
baytun : rumah = house بيتٌ
Allahu : Allah
house of Allah (rumah Allah)? --> baitu Allahi (baitullahi) بيتُ اللهِ
Contoh lain:
qolamun : pen = pena قلمٌ
al-ustaadzu : ustadz الأستاذُ
the pen of ustadz (pena ustadz)? --> qolamu al-ustaadzi (qolamul ustaadzi) قلمُ الأستاذِ
Nah dalam surat An-Nashr ini ada contoh lain:
Help of Allah.
Help = nashrun نصرٌ
Sehingga Help of Allah نصرُ اللهِ - nashru Allahi (atau nashrullahi) : pertolongan Allah.
Demikian seterusnya. Kita telah ulang-ulangi topik mengenai mudhof ilah ini, semoga dengan diulang-ulang tambah jelas ya. Insya Allah, kita akan bahas mengenai adverb pada topik setelah ini.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan membahas mengenai surat An-Nashr. Baiklah kita mulai.
إذا جاء نصر الله والفتح - idza jaa-a nasru allahi wa al-fathu
idza: jika
jaa-a: telah datang
nasrullahi: pertolongan Allah (Help of Allah)
wa: dan
al-fathu: kemenangan (victory)
Pembaca yang dirahmati Allah, ada yang perlu kita ulang-ulang disini yaitu bentuk dari Mudhof Ilaih. Sudah kita singgung di beberapa topik yang lalu, akan tetapi kita ulang lagi disini, biar lebih mantafff getoh...
Oke. Perhatikan kalimat diatas. Pertama, kita analisis dulu struktur kalimatnya. Oke, kalimat diatas terdiri dari kata penghubung idza (إذا). Sekarang kalau kita buang kata idza kalimat tersebut akan menjadi:
جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu
Disini kita bertemu dengan kalimat fi'iliyyah (jumlah fi'liyyah). Eh ngomong2x kita pernah bahas gak ya pembagian kalimat (aqsam al-jumlah) dalam bahasa Arab? Belum atau sudah ya (maaf saya lupa, maklum udah umuran).
Hmm anggaplah belum ya. Oke. Dalam bahasa Arab, kalimat dibagi 2, yaitu:
1. Jumlah Fi'liyyah (kalimat yang dimulai kata kerja)
2. Jumlah Ismiyyah (kalimat yang dimulai dengan kata benda)
Nah kalimat جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu , ini adalah kalimat fi'liyyah, karena dimulai dengan Kata Kerja, yaitu KKL jaa-a (datang). Siapa yang datang? Ingat setiap fi'il (Kata Kerja) membutuhkan fa'il (pelaku alias subjek). Subjeknya biasanya setelah fi'ilnya.
Kalimat diatas subjeknya adalah نصر الله والفتح - nasrullahi wal fathu. Itulah subjeknya.
Secara umum banyak pola kalimat dalam bahasa Arab, dimana dia dibentuk dari jumlah fi'liyyah. Contohnya:
ضرب زيدٌ - dhoroba zaidun : Zaid telah memukul (jumlah fi'liyyah)
Agak sedikit beda dengan bahasa kita. Kalau kita letterleijk menerjemahkan kalimat diatas, maka mestinya, di terjemahkan "Telah memukul (sesuatu) si Zaid". Bedanya adalah dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat itu diawali dengan Pelaku diikuti kata kerja. Sehingga kalau mengikuti ini kalimat diatas menjadi:
زيدٌ ضرب - Zaidun dhoraba : Zaid telah memukul (jumlah ismiyyah).
Perhatikan bahwa Kalimat diatas telah berubah menjadi jumlah ismiyyah. Dalam bahasa Indonesia kita tidak memiliki "kebebasan" seperti dalam bahasa Arab diatas.
Contohnya:
Zaid menulis --> (betul secara bahasa Indonesia). Dalam bahasa Arab: زيدٌ كتب - Zaidun kataba.
Menulis Zaid --> (salah secara bahasa Indonesia). Sedangkan dalam bahasa Arabnya tetap benar, yaitu كتب زيدٌ - kataba zaidun.
Disitu letak bedanya. Di bahasa Arab, posisi subjek boleh sebelum kata kerja, atau setelahnya.
Oke. Kembali ke topik utama... Kita mau bahas mengenai Mudhof Ilaih.
Perhatikan kata نصرُ اللهِ - nashru Allahi (dibaca cepat nashrullohi). Inilah dia mudhof (kata majemuk). Pas belajar ini saya sendiri juga rada bingung dengan definisi kata majemuk. Oke, tinggalkan yang susah, ambil yang mudah, pakai cara saya saja. Hehe...
Paling gampang belajar mudhof ini kalau kita mengerti struktur bahasa Inggris, tentang kepunyaan.
Misal kita katakan begini.
Umar's book (buku milik si Umar). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:
book of Umar (buku milik si Umar).
Nah bentuk: book of Umar ini lah yang disebut Mudhof, dalam bahasa Arab.
Contoh lain:
Allah's messenger (Rasul milik Allah / Rasul Allah). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:
Messenger of Allah.
Bagaimana bahasa Arab nya : Messenger of Allah?
Oke.
Messenger : رسولٌ - rasuulun
Allah: اللهُ - Allahu
Sehingga messenger of Allah = رسولُ اللهِ - Rasuulullahi.
Hmm... bentar-bentar kok bukan: رسولٌ اللهُ - Rasuulun Allahu (atau Rasuulullahu)?
Nah disini aturannya muncul (weleh aturan lagi... aturan lagi). Tenang, banyak latihan saja. Aturan gak usah dihafalin.
Kata rasuulun disebut mudhof, sedangkan kata Allahu disebut mudhof ilaih. Aturannya, Mudhof itu tidak boleh bertanwin, sehingga rasuulun harus dhommah saja menjadi rasuulu. Trus, mudhof ilaihi itu harus kasroh. Sehingga Allahu menjadi Allahi. Udah deh, cuman 2 itu aturannyanya... gampang kan.
Contoh lain:
baytun : rumah = house بيتٌ
Allahu : Allah
house of Allah (rumah Allah)? --> baitu Allahi (baitullahi) بيتُ اللهِ
Contoh lain:
qolamun : pen = pena قلمٌ
al-ustaadzu : ustadz الأستاذُ
the pen of ustadz (pena ustadz)? --> qolamu al-ustaadzi (qolamul ustaadzi) قلمُ الأستاذِ
Nah dalam surat An-Nashr ini ada contoh lain:
Help of Allah.
Help = nashrun نصرٌ
Sehingga Help of Allah نصرُ اللهِ - nashru Allahi (atau nashrullahi) : pertolongan Allah.
Demikian seterusnya. Kita telah ulang-ulangi topik mengenai mudhof ilah ini, semoga dengan diulang-ulang tambah jelas ya. Insya Allah, kita akan bahas mengenai adverb pada topik setelah ini.
Langganan:
Postingan (Atom)