Bisimillahirrahmanirrahim.
Kata muhrim sering kita pakai. "Eh awas... nanti whudhu'mu batal... jangan dekat-dekat... bukan muhrim". Muhrim yang dimaksud disini, adalah orang yang haram dinikahi.
Kata yang dekat dengan kata muhrim banyak. Antara lain: kata haram, muharram, mahrum, mahram, dsb.
Haram dan Halal
Haram, حرام adalah lawan dari Halal حلال. Sudah tidak kita perlukan penafsiran apa-apa lagi kan. Haram artinya sesuatu yang dilarang. Halal artinya sesuatu yang dibolehkan.
Dari mana asalnya kata Haram? Perhatikan kata haram dalam bahasa Indonesia itu dalam bahasa Arabnya حرام . Ada 4 huruf kan. HA RO ALIF dan MIM. Nah sebuah kata bahasa Arab umumnya terdiri dari 3 huruf asli (yaitu huruf hijaiyah selain YA, WAW, dan ALIF).
Kalau begitu kata حرام - yang 4 huruf itu, karena ada ALIF, maka huruf aslinya hanya 3, yaitu HA RO dan MIM. Jadilah dia: حرم.
Nah yang jadi soal gimana mbacanya? Dia bisa kita baca harama, haruma, harima. Ada 3 kemungkinan. Lho... kan bisa juga kita baca hurima, hurimi, dsb? Ya Anda benar. Akan tetapi yang umum jadi entri pertama di kamus adalah AWAL dan AKHIR fathah. Dengan demikian tengahnya bisa fathah, kasroh, atau dhommah. So hanya 3 kemungkinan.
Okeh... sekarang kita lihat lagi. Kata حرم , jika mendapat alif sebelum huruf terakhir, maka biasanya kata itu menunjukkan sifat, dan cara bacanya tertentu. Jadi kata حرام , walau tidak ada harokatnya, dibaca haraam. Yaitu sesuatu yg sifatnya haram.
Sama halnya dengan رحمان walau tidak ada harokatnya kita baca rahmaan. Tidak bisa dibaca ruhmaan, atau rihmaan.
Sekarang balik lagi ke kata حرم. Bagaimana cara membacanya, diantara 3 kemungkinan? Hanya ada 1 cara, yaitu lihat kamus... (hik.. only that??? lah iya laaa...)
Di kamus ditulis:
حرم يحرم حرما - haruma yahrumu hurman : haram, terlarang.
Berarti kita bacanya haruma (kata kerja).
Simple kan? Insya Allah ya...
Oke, dari KKL haruma itu, banyak kata yang terbentuk setelahnya, seperti:
حرّم - harrama : mengharamkan (KKT-2)
أحرم - ahrama : berihram (KKT-1)
TAHRIIM dan MUHRIM
Kata ahrama - berihram. Orang yang melakukan ihram disebut محرم - muhrim (isim fa'il). Sama halnya dengan أسلم - aslama : berIslam, maka orang yang Islam disebut مسلم - muslim.
Jadi kalau begitu kata MUHRIM lebih tepat diartikan orang yang berihram (sedang melaksanakan ibadah haji).
Sedangkan kata محرم - mahram, adalah orang yang haram dinikahi.
Dalam AQ sesuatu yang dilarang disebut dengan mahruum محروم .
Kata tahrim artinya pengharaman. Kata ini adalah kata masdhar dari harrama. Tashrifnya adalah: harrama yuharrimu tahriim.
Muharram
Muharram محرم adalah nama bulan. Secara letterleijk, muharram adalah isim maf'ul (objek) dari kata harrama. Jadi kalau harrama mengharamkan, muharrim adalah sesuatu yang mengharamkan, sedangkan muharram artinya sesuatu yang diharamkan. Dari kacamata sejarah bulan muharram adalah bulan dimana berperang dibulan tsb diharamkan.
Kembali lagi ke konteks muhrim dan mahram. Kalau yang dimaksud orang yang tidak boleh dinikahi maka disebut mahram, bukan muhrim. Karena muhrim adalah orang yang berihram. Di Indonesia dan Malaysia (kalo tidak salah), sering dijumpai perkataan muhrim, tapi maksudnya mahram.
Allahu a'lam.
Senin, 16 Juni 2008
Kamis, 12 Juni 2008
Topik 81: Sallim
Bismillahirrahmanirrahim.
Sudah lama sekali saya tidak menulis. Selain sedang ada tugas-tugas kantor dan kuliah, juga tugas sebagai ayah dari anak-anak yang mulai abg, juga tidak mudah :-) Disamping itu, saya juga ragu apakah pembaca blog ini sudah pada belajar ke gurunya masing-masing, sehingga belajar bahasa arabnya pun semakin bisa lebih kencang. Jika ya alhamdulillah. Mari kita giatkan dan tularkan ke muslim lainnya agar mau belajar bahasa Al-Quran ini. Saya dibilangin oleh seorang saudara saya, bahwa dia mendengar sebuah hadist: ta'allamuu al-lughata al-arabiyata wa 'allimuuha an-naasa (belajarlah bahasa Arab, dan ajarkanlah dia kepada manusia).
Sallim
Mari kita ingat hal yang sederhana. Dulu waktu saya SMA, kadang bertemu orang / saudara, dia berkata ke anaknya: "ayo sallim, ayo nak sallim..." Waktu itu saya hanya sedikit bingung, karena terdengar asing ditelinga. Yang sering diucapkan orang: "ayo nak, salam", atau "ayo salaman nak".
Sebenarnya yang paling tepat memang: "ayo nak, sallim".
Kata sallim, adalah bentuk kata kerja perintah.
سلّمْ - sallim : beri salam!
Kata ini dibentuk dari kata sallama - yusallimu - tasliiman, yang artinya menyelamatkan atau memberi salam.
Tapi jangan pula sampai "double L" nya tak terucap. Nanti artinya lain. Kadang kita sering mendengar: "ayo salim". Nah salim atau saliim, ini artinya selamat atau sentosa, bukan memberi salam. Jadi "ayo nak, salim", beda dengan "ayo nak sallim".
Poster di pintu
Kadang untuk membiasakan seorang anak (saya sih belum mempraktekkan, hanya dengar dari teman), maka di rumah bisa dipasang poster yang ada tulisan arabnya.
اطرق الباب أولا - uthruq al-baaba awwalan : ketok pintu ini terlebih dahulu.
Kalimat ini bisa dipasang di pintu kamar orang tua.
Atau bisa juga dibiasakan, waktu kita mau masuk rumah orang kita suruh anak kita: "uthtruq awwalan" - ketok dulu... dst
Menyuruh anak memperkenalkan diri
Selanjutnya waktu kita menyuruh si anak memperkenalkan diri, bisa kita pakai ekspresi kalimat berikut:
عرّف نفسك - 'arrif nafsaka : perkenalkan dirimu
Kata 'arrif, berasal dari kata 'arrafa yu-'arrifu ta'riifan, yang artinya mengenalkan, atau memberitahukan.
Kata 'arrafa ini kita temukan di Al-Quran surat 47 ayat 6:
وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ - wayudkhilhum aljannata 'arrafahaa lahum
dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga (yang) Dia telah memberitahukan (tentang)surga itu kepada mereka (sebelumnya).
Pola kata 'arrafa adalah KKT-2, yang biasanya dalam pola bahasa Indonesia me+KataKerja+kan.
Ini yang membedakan 'arrafa (KKT-2) dengan 'arafa (KKT-1)
'arafa (KKT-1) artinya mengenal.
Seperti عرفت محمدا - 'araftu muhammadan : saya kenal muhammad
Sedangkan 'arrafa (KKT-2) artinya mengenalkan (sesuatu) kepada (seseorang)
عرفت هذا الكتاب لك - 'arraftu hadzal kitaaba laka : saya mengenalkan kitab ini kepadamu.
Orang yang 'arif
Kita sering mendengar orang berkata: Ih dia orangnya 'arif banget ya? Nah kata 'arif sudah diserap kedalam bahasa Indonesia, yang sering diasosiasikan dengan arti: orang yang bijaksana.
Sebenarnya banyak sekali kata bentukan dari 'arafa ini, yand diserap ke bahasa Indonesia.
Mari kita lihat tashrifnya:
'arrafa yu'rifu 'irfah 'irfan ma'rifah
3 kata terakhir adalah mashdar.
Kita sering mendengar, "oh dia itu ahli irfan", maksudnya dia itu orang yang punya pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain (atau dipersepsikan orang yang bijak, orang yang bisa meramal masa depan, mengerti maksud yang tersembunyi, dsb)
Kita juga sering mendengar, kata ma'rifah, yang artinya pengetahuan. Seperti: "yang pertama kali mesti dipelajari adalah ma'rifatullah", maksud ma'rifatullah adalah pengetahuan tentang Allah.
Ta'arruf
Nah kata ini lagi trend. Ta'arruf, adalah kata 'arafa (KKT-1) yang kemudian berubah bentuk jadi KKT-5 dari wazan fa'-'ala, sehingga menjadi ta-'arrafa, yang artinya berkenalan dengan.
Sebelum proses menikah, didahului dengan proses ta'arruf, artinya proses mengenal calon istri.
Ma'ruf
Ma'ruf artinya sesuatu yang diketahui. Wazannya sama seperti manshur منصور (orang yang ditolong). Kalau orang yang menolong: naashir ناصر . Dengan wazan yang sama, orang yang mengetahui disebut 'aarif عارف.
Mudah kan? Ya, kalau sudah kenal dengan wazan2x tsb maka lebih mudah membentuk kata-kata dalam bahasa Arab. Insya Allah.
(se)Gitu dulu yah...
Sudah lama sekali saya tidak menulis. Selain sedang ada tugas-tugas kantor dan kuliah, juga tugas sebagai ayah dari anak-anak yang mulai abg, juga tidak mudah :-) Disamping itu, saya juga ragu apakah pembaca blog ini sudah pada belajar ke gurunya masing-masing, sehingga belajar bahasa arabnya pun semakin bisa lebih kencang. Jika ya alhamdulillah. Mari kita giatkan dan tularkan ke muslim lainnya agar mau belajar bahasa Al-Quran ini. Saya dibilangin oleh seorang saudara saya, bahwa dia mendengar sebuah hadist: ta'allamuu al-lughata al-arabiyata wa 'allimuuha an-naasa (belajarlah bahasa Arab, dan ajarkanlah dia kepada manusia).
Sallim
Mari kita ingat hal yang sederhana. Dulu waktu saya SMA, kadang bertemu orang / saudara, dia berkata ke anaknya: "ayo sallim, ayo nak sallim..." Waktu itu saya hanya sedikit bingung, karena terdengar asing ditelinga. Yang sering diucapkan orang: "ayo nak, salam", atau "ayo salaman nak".
Sebenarnya yang paling tepat memang: "ayo nak, sallim".
Kata sallim, adalah bentuk kata kerja perintah.
سلّمْ - sallim : beri salam!
Kata ini dibentuk dari kata sallama - yusallimu - tasliiman, yang artinya menyelamatkan atau memberi salam.
Tapi jangan pula sampai "double L" nya tak terucap. Nanti artinya lain. Kadang kita sering mendengar: "ayo salim". Nah salim atau saliim, ini artinya selamat atau sentosa, bukan memberi salam. Jadi "ayo nak, salim", beda dengan "ayo nak sallim".
Poster di pintu
Kadang untuk membiasakan seorang anak (saya sih belum mempraktekkan, hanya dengar dari teman), maka di rumah bisa dipasang poster yang ada tulisan arabnya.
اطرق الباب أولا - uthruq al-baaba awwalan : ketok pintu ini terlebih dahulu.
Kalimat ini bisa dipasang di pintu kamar orang tua.
Atau bisa juga dibiasakan, waktu kita mau masuk rumah orang kita suruh anak kita: "uthtruq awwalan" - ketok dulu... dst
Menyuruh anak memperkenalkan diri
Selanjutnya waktu kita menyuruh si anak memperkenalkan diri, bisa kita pakai ekspresi kalimat berikut:
عرّف نفسك - 'arrif nafsaka : perkenalkan dirimu
Kata 'arrif, berasal dari kata 'arrafa yu-'arrifu ta'riifan, yang artinya mengenalkan, atau memberitahukan.
Kata 'arrafa ini kita temukan di Al-Quran surat 47 ayat 6:
وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ - wayudkhilhum aljannata 'arrafahaa lahum
dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga (yang) Dia telah memberitahukan (tentang)surga itu kepada mereka (sebelumnya).
Pola kata 'arrafa adalah KKT-2, yang biasanya dalam pola bahasa Indonesia me+KataKerja+kan.
Ini yang membedakan 'arrafa (KKT-2) dengan 'arafa (KKT-1)
'arafa (KKT-1) artinya mengenal.
Seperti عرفت محمدا - 'araftu muhammadan : saya kenal muhammad
Sedangkan 'arrafa (KKT-2) artinya mengenalkan (sesuatu) kepada (seseorang)
عرفت هذا الكتاب لك - 'arraftu hadzal kitaaba laka : saya mengenalkan kitab ini kepadamu.
Orang yang 'arif
Kita sering mendengar orang berkata: Ih dia orangnya 'arif banget ya? Nah kata 'arif sudah diserap kedalam bahasa Indonesia, yang sering diasosiasikan dengan arti: orang yang bijaksana.
Sebenarnya banyak sekali kata bentukan dari 'arafa ini, yand diserap ke bahasa Indonesia.
Mari kita lihat tashrifnya:
'arrafa yu'rifu 'irfah 'irfan ma'rifah
3 kata terakhir adalah mashdar.
Kita sering mendengar, "oh dia itu ahli irfan", maksudnya dia itu orang yang punya pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain (atau dipersepsikan orang yang bijak, orang yang bisa meramal masa depan, mengerti maksud yang tersembunyi, dsb)
Kita juga sering mendengar, kata ma'rifah, yang artinya pengetahuan. Seperti: "yang pertama kali mesti dipelajari adalah ma'rifatullah", maksud ma'rifatullah adalah pengetahuan tentang Allah.
Ta'arruf
Nah kata ini lagi trend. Ta'arruf, adalah kata 'arafa (KKT-1) yang kemudian berubah bentuk jadi KKT-5 dari wazan fa'-'ala, sehingga menjadi ta-'arrafa, yang artinya berkenalan dengan.
Sebelum proses menikah, didahului dengan proses ta'arruf, artinya proses mengenal calon istri.
Ma'ruf
Ma'ruf artinya sesuatu yang diketahui. Wazannya sama seperti manshur منصور (orang yang ditolong). Kalau orang yang menolong: naashir ناصر . Dengan wazan yang sama, orang yang mengetahui disebut 'aarif عارف.
Mudah kan? Ya, kalau sudah kenal dengan wazan2x tsb maka lebih mudah membentuk kata-kata dalam bahasa Arab. Insya Allah.
(se)Gitu dulu yah...
Rabu, 14 Mei 2008
Topik 80: Jawaban Pertanyaan
Bismillahirrahim.
Wah, tumben pagi ini saya terima Email di mailbox saya. Ada yang nulis di bagian Comments (dibawah) bertanya, pada posting terakhir 1 bulan yang lalu. Memang sudah agak lama saya tidak menulis di Blog ini. Tetapi karena ada pertanyaan, saya sempatkan menuliskan jawabannya.
Yang ditanyakan:
Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Dan apa beda keduanya.
Oke deh. Rasanya sudah pernah saya bahas, di topik-topik yang lalu ya.
1. Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan tafaa 'ala: menunjukkan pekerjaan itu terjadi antara 2 belah pihak (makna saling).
Contoh:
تحاصم الكفار - tahaa-shoma al-kuffaaru : orang-orang kafir itu saling bermusuhan
Atau contoh di AQ: Surat An-naba'
عم يتساءلون - 'amma ya-tasaa-aluun : tentang apakah mereka saling bertanya?
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
a. Menunjukkan pengertian pura-pura. Contoh:
تمارض الكسلان - tamaaradha al-kaslaanu : orang malas itu pura-pura sakit
b. Menunjukkan pekerjaan yang terjadi berangsur-angsur. Contoh:
توارد الزائرون - tawaarada adz-dzaa-i-ruuna : para pengunjung itu berangsur-angsur datang.
c. Menunjukkan pengertian aslinya. Contoh:
تعالى الله - ta-'aa-lallahu : Allah ta-'aalaa. Kata ta-'aala disini sama maksudnya dengan 'alaa (Maha Tinggi).
d. Menunjukkan akibat dari suatu perbuatan. Contoh:
باعدت خالدا فتباعد - baa-'ad-tu Khoolidan fa tabaa-'a-da : aku menjauh dari Kholid, maka dia(pun) menjauh.
Oke sekarang pertanyaan ke 2.
2. Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan istaf 'ala: menunjukkan pekerjaan yang meminta sesuatu ke pihak lain.
Contoh:
استغفرت لله - istaghfartu lillahi : Aku minta-ampun kepada Allah
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
Memiliki sifat atau menganggap. Contoh:
هو استحل الحرام - huwa istahalla alharaama : dia mengganggap halal (sesuatu yang) haram itu.
Dan beberapa fungsi lainnya. Sementara kita cukupkan sampai disini dulu, pembahasannya.
Wah, tumben pagi ini saya terima Email di mailbox saya. Ada yang nulis di bagian Comments (dibawah) bertanya, pada posting terakhir 1 bulan yang lalu. Memang sudah agak lama saya tidak menulis di Blog ini. Tetapi karena ada pertanyaan, saya sempatkan menuliskan jawabannya.
Yang ditanyakan:
Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Dan apa beda keduanya.
Oke deh. Rasanya sudah pernah saya bahas, di topik-topik yang lalu ya.
1. Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan tafaa 'ala: menunjukkan pekerjaan itu terjadi antara 2 belah pihak (makna saling).
Contoh:
تحاصم الكفار - tahaa-shoma al-kuffaaru : orang-orang kafir itu saling bermusuhan
Atau contoh di AQ: Surat An-naba'
عم يتساءلون - 'amma ya-tasaa-aluun : tentang apakah mereka saling bertanya?
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
a. Menunjukkan pengertian pura-pura. Contoh:
تمارض الكسلان - tamaaradha al-kaslaanu : orang malas itu pura-pura sakit
b. Menunjukkan pekerjaan yang terjadi berangsur-angsur. Contoh:
توارد الزائرون - tawaarada adz-dzaa-i-ruuna : para pengunjung itu berangsur-angsur datang.
c. Menunjukkan pengertian aslinya. Contoh:
تعالى الله - ta-'aa-lallahu : Allah ta-'aalaa. Kata ta-'aala disini sama maksudnya dengan 'alaa (Maha Tinggi).
d. Menunjukkan akibat dari suatu perbuatan. Contoh:
باعدت خالدا فتباعد - baa-'ad-tu Khoolidan fa tabaa-'a-da : aku menjauh dari Kholid, maka dia(pun) menjauh.
Oke sekarang pertanyaan ke 2.
2. Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala
Secara teoritis nahwu, fungsi wazan istaf 'ala: menunjukkan pekerjaan yang meminta sesuatu ke pihak lain.
Contoh:
استغفرت لله - istaghfartu lillahi : Aku minta-ampun kepada Allah
Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:
Memiliki sifat atau menganggap. Contoh:
هو استحل الحرام - huwa istahalla alharaama : dia mengganggap halal (sesuatu yang) haram itu.
Dan beberapa fungsi lainnya. Sementara kita cukupkan sampai disini dulu, pembahasannya.
Minggu, 06 April 2008
Pagi dan Air
Kehebohan nyaris terjadi. Padahal waktu itu masih pagi. Ya sekitar jam 4:00 dinihari. Waktu adzan shubuh masih berapa menit lagi. Biasanya aku sudah mandi, dan siap mengenakan pakaian kantor. Kalau masih sempat sholat tahajjud aku sholat dulu sebelum mandi.
Air di kran tidak ‘ngucur’. Bagaimana mau wudhu? Sementara, tidur semalaman membuat keinginan untuk buang air kecil, besar sekali. Tidak kuat untuk ditahan. Air kencing pagi hari yang beraroma khas ”amoniak” tsb pun terpaksa dibuang ke closet. Untunglah air untuk ”flush” masih tersisa. Cress... Bau ”amoniak”pun sirna.
Tak lama istri dan anak bangun. Mau minum, air aqua di dispenser ternyata habis. Yang mau buang hajat? Wah repot sekali... tidak ada air.
Pagi itu satu cluster perumahanku, mati air. Informasi dari Satpam, air PAM mati, karena semalam ada kebocoran di pipa utama yang mensuplai air ke cluster. Walhasil, petugas PAM semalamam menutup saluran pipa sebelum masuk ke clusterku. Menurut petugasnya kerusakan baru bisa diperbaiki dalam 1 sampai 2 hari. Aduh! Pembantu di lantai 1, nanya: ”Bu... pagi ini ngak nyuci ya…?” ”Ya… mau gimana lagi ?” jawab istriku.
Karena adzan sudah dekat, aku buru-buru nyetir mobil ke Masjid, bawa rombongan. Biar wudhu’ di masjid saja. Di jalan menuju keluar cluster perumahan, ada rumah yang dikunjungi banyak orang. Rupanya disana rumah yang pakai ”double gardan”, selain pakai PAM, juga pakai air tanah yang disedot pompa. Beruntung yang punya rumah sangat dermawan. Berjejer para ibu dan pembantu tetangga-tetangga sekitar mengisi air di ember-ember. Pembantuku pun kusuruh kesana.
Pagi itu benar-benar repot. Air tidak ada buat kebutuhan mandi, nyuci, masak, MCK. Mana toilet jadi bau, karena sebahis ”dipakai” anak-anak. Air minum di dispenser pun habis.
Pagi dan Air di Al-Quran
Mengenai kejadian ini, aku jadi teringat sebuah surat di Al-Quran yaitu surat Al-Mulk (67) ayat 30:
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
Kebetulan, aku sudah & sedang kursus bahasa Arab, jadi dikit-dikit bisalah nerjemahin, kalimat tsb. Tarjamah letterleijk:
Katakanlah (hai Muhammad): ”Jelaskan kepadaku jika pada pagi hari air kalian menjadi kering”.
Disini dikatakan: in ashbaha, jika pada pagi hari menjadilah ...
Kata ashbaha satu akar kata dengan kata as-subh (waktu subuh).
Aku merasakan sekali, bagaimana repotnya kehilangan semua air pada pagi hari... Jezz... terasa baget ayat ini... in ashbaha maaukum ghauran... jika pada pagi hari menjadilah airmu kering...
Dalam bahasa Arab, ayat ini bisa ditulis dalam redaksi lain: in kaana maaukum ghauran... jika menjadilah airmu kering...
Mungkin ini hikmahnya, mengapa Allah tidak menggunakan kata kaana, yang secara fungsi dan arti sama dengan ashbaha, yaitu menjadi (to become) akan tetapi ashbaha spesifik untuk kejadian-kejadian yang terjadi pagi hari.
Aku juga ingat lantunan merdu Syaikh Al-Matrud... fa ashbahat ka assariim... Ini tentang kisah orang yang menemukan kebunnya rusak terbakar, kering dan menghitam pada pagi hari. Hanya karena mereka tidak menyebut: Insya Allah. Dan mereka bakhil terhadap si miskin. Dikatakan: fa ashbahat ka assariim - menjadilah diwaktu pagi (kebun mereka itu kering) seperti malam yang sangat gelap. Ya, kebun mereka pagi hari menjadi (asbhahat) kering seperti gelapnya malam, itu sepenggal kisah di surat Al-Qalam (68) ayat 20.
Ya Allah... kenapa musti pagi ini, air dirumahku kering? Kenapa gak ditunda siang hari saja? Biar pembantuku selesai dulu nyuci. Biar anak-anak mandi dulu dan kesekolah. Biar aku bebersih dulu sebelum ke kantor. Biar istriku bisa masak makanan dulu buat makan siang dan malam. Biar toiletku jadi gak bau... Biar... duh... Banyak sekali protes di hati...
Akhirnya, aku sampai pada lanjutan ayat ini.
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
maka, siapakah yang akan mendatangkan kepadamu air yang mengalir? bi maa-in ma’iin. (air yang mengalir, memancar). Kata ma’iin, satu akar dengan kata mu’iin (yang menolong). Duh... aku memang butuh pertolonganMu ya Allah.. Beri aku air yang ma’iin, dan yang mu’iin.
Pagi itu, benar-benar aku resapi satu ayat di surat Al-Mulk ini.
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
Jelaskanlah, jika pada suatu pagi air (ditempatmu) kering? Maka siapakah yang mampu mendatangkan air yang mengalir?
Air di kran tidak ‘ngucur’. Bagaimana mau wudhu? Sementara, tidur semalaman membuat keinginan untuk buang air kecil, besar sekali. Tidak kuat untuk ditahan. Air kencing pagi hari yang beraroma khas ”amoniak” tsb pun terpaksa dibuang ke closet. Untunglah air untuk ”flush” masih tersisa. Cress... Bau ”amoniak”pun sirna.
Tak lama istri dan anak bangun. Mau minum, air aqua di dispenser ternyata habis. Yang mau buang hajat? Wah repot sekali... tidak ada air.
Pagi itu satu cluster perumahanku, mati air. Informasi dari Satpam, air PAM mati, karena semalam ada kebocoran di pipa utama yang mensuplai air ke cluster. Walhasil, petugas PAM semalamam menutup saluran pipa sebelum masuk ke clusterku. Menurut petugasnya kerusakan baru bisa diperbaiki dalam 1 sampai 2 hari. Aduh! Pembantu di lantai 1, nanya: ”Bu... pagi ini ngak nyuci ya…?” ”Ya… mau gimana lagi ?” jawab istriku.
Karena adzan sudah dekat, aku buru-buru nyetir mobil ke Masjid, bawa rombongan. Biar wudhu’ di masjid saja. Di jalan menuju keluar cluster perumahan, ada rumah yang dikunjungi banyak orang. Rupanya disana rumah yang pakai ”double gardan”, selain pakai PAM, juga pakai air tanah yang disedot pompa. Beruntung yang punya rumah sangat dermawan. Berjejer para ibu dan pembantu tetangga-tetangga sekitar mengisi air di ember-ember. Pembantuku pun kusuruh kesana.
Pagi itu benar-benar repot. Air tidak ada buat kebutuhan mandi, nyuci, masak, MCK. Mana toilet jadi bau, karena sebahis ”dipakai” anak-anak. Air minum di dispenser pun habis.
Pagi dan Air di Al-Quran
Mengenai kejadian ini, aku jadi teringat sebuah surat di Al-Quran yaitu surat Al-Mulk (67) ayat 30:
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
Kebetulan, aku sudah & sedang kursus bahasa Arab, jadi dikit-dikit bisalah nerjemahin, kalimat tsb. Tarjamah letterleijk:
Katakanlah (hai Muhammad): ”Jelaskan kepadaku jika pada pagi hari air kalian menjadi kering”.
Disini dikatakan: in ashbaha, jika pada pagi hari menjadilah ...
Kata ashbaha satu akar kata dengan kata as-subh (waktu subuh).
Aku merasakan sekali, bagaimana repotnya kehilangan semua air pada pagi hari... Jezz... terasa baget ayat ini... in ashbaha maaukum ghauran... jika pada pagi hari menjadilah airmu kering...
Dalam bahasa Arab, ayat ini bisa ditulis dalam redaksi lain: in kaana maaukum ghauran... jika menjadilah airmu kering...
Mungkin ini hikmahnya, mengapa Allah tidak menggunakan kata kaana, yang secara fungsi dan arti sama dengan ashbaha, yaitu menjadi (to become) akan tetapi ashbaha spesifik untuk kejadian-kejadian yang terjadi pagi hari.
Aku juga ingat lantunan merdu Syaikh Al-Matrud... fa ashbahat ka assariim... Ini tentang kisah orang yang menemukan kebunnya rusak terbakar, kering dan menghitam pada pagi hari. Hanya karena mereka tidak menyebut: Insya Allah. Dan mereka bakhil terhadap si miskin. Dikatakan: fa ashbahat ka assariim - menjadilah diwaktu pagi (kebun mereka itu kering) seperti malam yang sangat gelap. Ya, kebun mereka pagi hari menjadi (asbhahat) kering seperti gelapnya malam, itu sepenggal kisah di surat Al-Qalam (68) ayat 20.
Ya Allah... kenapa musti pagi ini, air dirumahku kering? Kenapa gak ditunda siang hari saja? Biar pembantuku selesai dulu nyuci. Biar anak-anak mandi dulu dan kesekolah. Biar aku bebersih dulu sebelum ke kantor. Biar istriku bisa masak makanan dulu buat makan siang dan malam. Biar toiletku jadi gak bau... Biar... duh... Banyak sekali protes di hati...
Akhirnya, aku sampai pada lanjutan ayat ini.
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
maka, siapakah yang akan mendatangkan kepadamu air yang mengalir? bi maa-in ma’iin. (air yang mengalir, memancar). Kata ma’iin, satu akar dengan kata mu’iin (yang menolong). Duh... aku memang butuh pertolonganMu ya Allah.. Beri aku air yang ma’iin, dan yang mu’iin.
Pagi itu, benar-benar aku resapi satu ayat di surat Al-Mulk ini.
Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan
faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin
Jelaskanlah, jika pada suatu pagi air (ditempatmu) kering? Maka siapakah yang mampu mendatangkan air yang mengalir?
Kamis, 27 Maret 2008
Topik 79: Format Baru
Bismillahirrahmanirrahim
Para pembaca yang dirahmati Allah. Untuk menambah variasi dalam tulisan ini, saya akan coba “permak” format penulisan, Insya Allah mulai tulisan topik ini. Saya akan bagi tiga bagian: (i) Ungkapan, (ii) Kosa Kata Baru, (iii) Al-Quran.
Sampai kapan format ini akan bertahan? Allahu a’lamu. Yang jelas saya mencoba mengubah format penulisan agar tetap segar. Baiklah kita mulai.
I. Ungkapan
السلام عليكم – assalamu ‘alaykum
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته – wa ‘alaykumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh
صَبَاحُ الْخَيْرِ – shobbaahul khair : selamat pagi
صَبَاحُ النُّوْرِ – shobbaahun nuur : selamat pagi juga (jawaban)
مُنْذُ زَمَانٍ لَمْ أَرَاكَ – mundzu zamaan lam arooka : lama saya tidak berjumpa Anda
كَيْفَ حَالُكَ – kaifa haaluk ? : bagaimana kabar Anda?
الحمد لله أَنَا بِخَيْرٍ – Alhamdulillah ana bi khoir: Alhamdulillah saya baik-baik saja
أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ – ana sa’iid biliqooik : saya gembira berjumpa denganmu
أَنَا فُجُوْرٌ بِلِقَائِكَ – ana fuujuur biliqooik: saya senang berjumpa denganmu
تَبْدُوْ سَعِيْدًا هَذَا الْيَوْمَ – tabdu sa’iid hadzal yaum : Anda tampak gembira hari ini
شُكْرًا – syukran : terima kasih
تَفَضَّلْ بِلْجُلُوْسِ – tafaddhol bil juluus : silahkan duduk
البَيْتُ بَيْتَكَ – al-baytu baitak : (rumah ini rumahmu) = anggaplah rumah sendiri
هَيَّا نَشْرَبْ الشَيْ – hayya nasyrobis syaay : mari kita minum teh
II. Kosa Kata Baru
سعيد – sa-‘iid : gembira
تفضل – tafaddhol : silahkan
نشرب – nasyrab : minum
III. Al-Quran
Baiklah kita coba lihat tiga kata baru yang kita pelajari tsb di Al-Quran. Kata سعيد – sa’iid, dapat kita tebak, sebagai kata shifat. Loh… kok bisa? Ya tampak dari adanya ya, yang menyebabkan bunyi iii panjang. Contohnya kariim كريم (mulia), kabiir كبير (besar), jamiil جميل (cantik), dsb.
Kalau mau tahu kata kerjanya, maka buang ya nya, sehingga menjadi sa-’i-da سعد.
Kata sa-‘i-da : bahagia (happy, blessed) dalam Al-Quran ada di satu surat 11:108
وأما الذين سعدوا – wa ammal ladziina su-‘iduu : dan adapun orang-orang yang dibahagiakan
Terlihat disini Al-Quran menggunakan bentuk pasif: su-‘i-da (dibahagiakan), atau su-‘i-duu (mereka dibahagiakan).
Sedangkan kata sa’iid (bahagia, kata sifat) ada dalam satu surat di Al-Quran, 11:105
فمنهم شقي وسعيد – faminhum syaqiyyun wa sa-‘ii-dun : dan diantara mereka ada yang syaqiyyun (celaka), ada yang sa-‘ii-dun (bahagia).
Selanjutnya, kata تفضّل - tafadhdhol, adalah kata kerja perintah, yang artinya: Silahkan. Ini adalah bentuk kata kerja turunan ke 5. Akar katanya adalah:
فضل - يفضل : fadhola - yafdhulu : lebih
تفضل - يتفضل : tafadhdhola - yatafadhdholu : memberikan karunia, atau melebihkan
تفضل : tafadhdhol: silahkan
Di Al-Quran akar kata tafadhdhol ini kita jumpai dalam 2 ayat: yaitu surat 13 : 4, dan surat 23 : 24. Akan tetapi bentuk yang dipakai adalah kata kerja asal bukan KKT 2. Contohnya di surat 13: 4:
ونفضل بعضها - wa nufadhdhilu ba'dhohaa : dan kami melebihkan sebagian dari mereka.
Disini yang di gunakan adalah KKT-2. Ingat-ingat lagi fungsi KKT-2 adalah untuk mengjadikan fi'il yang tidak punya objek menjadi punya objek. Dalam rumus praktis, KKT-2 itu adalah kata kerja yang mendapat tambahan me....kan.
Contoh KK asal: fadhola = lebih, maka
KKT-2: fahddhola - yufadhdhilu = me-lebih-kan.
Kata terakhir yang hendak kita bahas adalah: nasyrob = kita minum. Akar katanya adalah syariba - yasyrabu : minum.
Dalam AQ, kata syariba - yashrabu ini kita jumpai dalam banyak tempat.
Contohnya di surat 83:28.
عينا يشرب بها المكربون - 'ainan yasyrabu bihaa al-mukarrabuun: mata air yang a-lmukarrabuun meminum nya.
Terlihat disini yang digukakan adalah KK asal dalam bentuk present (fi'il mudhori').
Dan masih banyak lagi kata yasrabu (minum) ini terdapat dalam AQ.
Sebagai penutup, ayat ini cukup sering digunakan untuk menasehati teman/orang lain agar tidak berlebih lebihan dalam makan/minum, surat 7:31.
كلوا واشربوا ولا تسرفوا - kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu : makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.
Demikian... Insya Allah kita akan lanjutkan pada topik berikutnya.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Untuk menambah variasi dalam tulisan ini, saya akan coba “permak” format penulisan, Insya Allah mulai tulisan topik ini. Saya akan bagi tiga bagian: (i) Ungkapan, (ii) Kosa Kata Baru, (iii) Al-Quran.
Sampai kapan format ini akan bertahan? Allahu a’lamu. Yang jelas saya mencoba mengubah format penulisan agar tetap segar. Baiklah kita mulai.
I. Ungkapan
السلام عليكم – assalamu ‘alaykum
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته – wa ‘alaykumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh
صَبَاحُ الْخَيْرِ – shobbaahul khair : selamat pagi
صَبَاحُ النُّوْرِ – shobbaahun nuur : selamat pagi juga (jawaban)
مُنْذُ زَمَانٍ لَمْ أَرَاكَ – mundzu zamaan lam arooka : lama saya tidak berjumpa Anda
كَيْفَ حَالُكَ – kaifa haaluk ? : bagaimana kabar Anda?
الحمد لله أَنَا بِخَيْرٍ – Alhamdulillah ana bi khoir: Alhamdulillah saya baik-baik saja
أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ – ana sa’iid biliqooik : saya gembira berjumpa denganmu
أَنَا فُجُوْرٌ بِلِقَائِكَ – ana fuujuur biliqooik: saya senang berjumpa denganmu
تَبْدُوْ سَعِيْدًا هَذَا الْيَوْمَ – tabdu sa’iid hadzal yaum : Anda tampak gembira hari ini
شُكْرًا – syukran : terima kasih
تَفَضَّلْ بِلْجُلُوْسِ – tafaddhol bil juluus : silahkan duduk
البَيْتُ بَيْتَكَ – al-baytu baitak : (rumah ini rumahmu) = anggaplah rumah sendiri
هَيَّا نَشْرَبْ الشَيْ – hayya nasyrobis syaay : mari kita minum teh
II. Kosa Kata Baru
سعيد – sa-‘iid : gembira
تفضل – tafaddhol : silahkan
نشرب – nasyrab : minum
III. Al-Quran
Baiklah kita coba lihat tiga kata baru yang kita pelajari tsb di Al-Quran. Kata سعيد – sa’iid, dapat kita tebak, sebagai kata shifat. Loh… kok bisa? Ya tampak dari adanya ya, yang menyebabkan bunyi iii panjang. Contohnya kariim كريم (mulia), kabiir كبير (besar), jamiil جميل (cantik), dsb.
Kalau mau tahu kata kerjanya, maka buang ya nya, sehingga menjadi sa-’i-da سعد.
Kata sa-‘i-da : bahagia (happy, blessed) dalam Al-Quran ada di satu surat 11:108
وأما الذين سعدوا – wa ammal ladziina su-‘iduu : dan adapun orang-orang yang dibahagiakan
Terlihat disini Al-Quran menggunakan bentuk pasif: su-‘i-da (dibahagiakan), atau su-‘i-duu (mereka dibahagiakan).
Sedangkan kata sa’iid (bahagia, kata sifat) ada dalam satu surat di Al-Quran, 11:105
فمنهم شقي وسعيد – faminhum syaqiyyun wa sa-‘ii-dun : dan diantara mereka ada yang syaqiyyun (celaka), ada yang sa-‘ii-dun (bahagia).
Selanjutnya, kata تفضّل - tafadhdhol, adalah kata kerja perintah, yang artinya: Silahkan. Ini adalah bentuk kata kerja turunan ke 5. Akar katanya adalah:
فضل - يفضل : fadhola - yafdhulu : lebih
تفضل - يتفضل : tafadhdhola - yatafadhdholu : memberikan karunia, atau melebihkan
تفضل : tafadhdhol: silahkan
Di Al-Quran akar kata tafadhdhol ini kita jumpai dalam 2 ayat: yaitu surat 13 : 4, dan surat 23 : 24. Akan tetapi bentuk yang dipakai adalah kata kerja asal bukan KKT 2. Contohnya di surat 13: 4:
ونفضل بعضها - wa nufadhdhilu ba'dhohaa : dan kami melebihkan sebagian dari mereka.
Disini yang di gunakan adalah KKT-2. Ingat-ingat lagi fungsi KKT-2 adalah untuk mengjadikan fi'il yang tidak punya objek menjadi punya objek. Dalam rumus praktis, KKT-2 itu adalah kata kerja yang mendapat tambahan me....kan.
Contoh KK asal: fadhola = lebih, maka
KKT-2: fahddhola - yufadhdhilu = me-lebih-kan.
Kata terakhir yang hendak kita bahas adalah: nasyrob = kita minum. Akar katanya adalah syariba - yasyrabu : minum.
Dalam AQ, kata syariba - yashrabu ini kita jumpai dalam banyak tempat.
Contohnya di surat 83:28.
عينا يشرب بها المكربون - 'ainan yasyrabu bihaa al-mukarrabuun: mata air yang a-lmukarrabuun meminum nya.
Terlihat disini yang digukakan adalah KK asal dalam bentuk present (fi'il mudhori').
Dan masih banyak lagi kata yasrabu (minum) ini terdapat dalam AQ.
Sebagai penutup, ayat ini cukup sering digunakan untuk menasehati teman/orang lain agar tidak berlebih lebihan dalam makan/minum, surat 7:31.
كلوا واشربوا ولا تسرفوا - kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu : makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.
Demikian... Insya Allah kita akan lanjutkan pada topik berikutnya.
Rabu, 19 Maret 2008
Topik 78: Kalimat Pasif KKT 5
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mohon maaf karena satu dan lain hal frekuensi penulisan agak “slow” hehe… Kata salah seorang teman saya, Pak Herry Sudjono: “wah… lagi nyari inspirasi ya…” hehe… Sebenarnya bukan cari inspirasi, karena masih banyak materi di buku-buku bahasa Arab yang bisa diangkat disini untuk dibicarakan, termasuk membahas ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, saat ini saya merasa agak ”jenuh” untuk menulis. Tapi karena satu dan beberapa email minta saya nulis lagi, menambah semangat saya juga untuk terus menulis. Mungkin ini salah satu maksud mengapa di ayat-ayat AQ, menggunakan KKT 4, wa tawaashaw bil haqqi (tawaashaw, KKT 4 mendapat tambahan TA dan ALIF, yang artinya saling mengerjakan sesuatu). Wa tawaashaw (saling ”washi” – berwasiat), ya kita harus saling berwasiat, saling mengingatkan, saling memberi semangat, untuk tetap istiqomah dijalan kebaikan.
Oke baiklah. Karena hari ini adalah hari libur nasional memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita saling mengigatkan untuk senantiasa mengikuti uswatun hasanatun kita Rasulullah SAW. Ulama-ulama sholih mengingatkan kita untuk giat belajar bahasa Arab, sebagai pilar untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Dinasehatkan:
تعلموا اللغة العربية واعلموها الناس – ta’allamuu al-lughota al-arabiyyata wa ’allimuuhaa an-naasa
Pelajarilah bahasa Arab dan ajarkanlah kepada manusia.
Umar RA juga mengingatkan kita untuk belajar bahasa Al-Quran ini. Dia berkata:
تعلموا الغة العربية فإنها من دينكم – ta’allamuu al-lughata al-‘arabiyyata fainnahaa min diinikum
Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu
Oke, baiklah kita segera mulai lanjutan pelajaran kita…
Aina washolnaa? (sudah sampai dimana kita kemaren?) Oh ya sudah bahas mengenai Kalimat Pasif. Tapi yang sudah kita bahas itu hanya kalimat pasif dari kata kerja 3 huruf asli. Contoh:
خلق الله الناس – kholaqo Allahu an-naasa (Allah menciptakan manusia)
خلق الناس – khuliqa an-naasu (Manusia diciptakan)
Kalau ada waktu insya Allah kita bisa bahas, ragam kalimat dari satu kalimat aktif menjadi 3 bagian:
1. Kalimat pasif
2. Kalimat berita tentang subject
3. Kalimat berita tentang object
Wah apa lagi nih… Gini Mas… Biar jelas, kita kasih contoh saja ya…
يفتح الموظف باب المكتبة صباحا – yaftahu al-muwazhzhofu baaba al-maktabati shobbaahan
Petugas itu membuka pintu perpustakaan pada pagi hari.
Oke kalimat diatas kalimat aktif kan? Oke... sekarang kita bisa membuat 3 macam kalimat dari kalimat diatas, yaitu:
يفتح باب المكتبة صباحا – yuftahu baabu al-maktabati shobbaahan.
Pintu perpustakaan dibuka pada pagi hari.
Itu kalimat pertama yang bisa kita buat. Sekarang kalimat ke dua, yang menjelaskan tentang subject. Siapa subjectnya : petugas. Ngapain dia? Membuka pintu.
الموظف فاتح – al-muwazzafu faathihun : petugas itu (adalah) orang yang membuka (pintu)
Kalimat ketiga yang kita bisa buat, adalah kalimat tentang object, yaitu pintu.
باب المكتبة مفتوح – baabu al-maktabati maftuuhun: pintu perpustakaan itu terbuka.
Terlihat kan bahwa dari satu kalimat aktif yang sempurna, kita bisa membuat 3 macam kalimat baru. Insya Allah kita akan latihan hal ini lagi di bagian-bagian lain.
Sekarang kita lihat hal yang sedikit lebih sukar. Apa itu?
Oke... Bagaimana membentuk kalimat pasif dari KKT 5. Oh ya KKT 5 itu adalah KKT dengan wazan تفعل – tafa’-‘ala.
Contohnya:
تفكر في – tafakkara fii : memikirkan
تفكر محمد في درسه – tafakkara muhammadun fii darsihi : Muhammad memikirkan pelajarannya.
Bagaimana pasifnya?
درسه تفكر في -darsuhu tufukkira fii : Pelajarannya dipikirkan.
Oke, apa yang bisa dipelajari? Insya Allah mudah. Yaitu, jika kita bertemu wazan KKT-5, maka urutan aktif pasif sbb:
تفعل – tafa’-‘ala (aktif)
تفعل – tufu’-‘ila (pasif)
Contoh lain:
تقدم الوالد أمام ولده – taqoddama al-waalidu amaama waladihi : Bapak itu berjalan mendahului anaknya.
Lihat KKT 5 nya: تقدم – taqoddama : berjalan mendahului
Jika dipasifkan, ingat ingat lagi wazannya: tufu’-‘ila, berarti taqoddama menjadi tuquddima. Sehingga kalimatnya menjadi:
تقدم الولد – tuquddima al-waladu : anak itu didahului.
Oke… Insya Allah mengerti ya… Kita akan lanjutkan lagi dengan topik lain, dengan masih membahas seputar kalimat pasif. Insya Allah.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mohon maaf karena satu dan lain hal frekuensi penulisan agak “slow” hehe… Kata salah seorang teman saya, Pak Herry Sudjono: “wah… lagi nyari inspirasi ya…” hehe… Sebenarnya bukan cari inspirasi, karena masih banyak materi di buku-buku bahasa Arab yang bisa diangkat disini untuk dibicarakan, termasuk membahas ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, saat ini saya merasa agak ”jenuh” untuk menulis. Tapi karena satu dan beberapa email minta saya nulis lagi, menambah semangat saya juga untuk terus menulis. Mungkin ini salah satu maksud mengapa di ayat-ayat AQ, menggunakan KKT 4, wa tawaashaw bil haqqi (tawaashaw, KKT 4 mendapat tambahan TA dan ALIF, yang artinya saling mengerjakan sesuatu). Wa tawaashaw (saling ”washi” – berwasiat), ya kita harus saling berwasiat, saling mengingatkan, saling memberi semangat, untuk tetap istiqomah dijalan kebaikan.
Oke baiklah. Karena hari ini adalah hari libur nasional memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita saling mengigatkan untuk senantiasa mengikuti uswatun hasanatun kita Rasulullah SAW. Ulama-ulama sholih mengingatkan kita untuk giat belajar bahasa Arab, sebagai pilar untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Dinasehatkan:
تعلموا اللغة العربية واعلموها الناس – ta’allamuu al-lughota al-arabiyyata wa ’allimuuhaa an-naasa
Pelajarilah bahasa Arab dan ajarkanlah kepada manusia.
Umar RA juga mengingatkan kita untuk belajar bahasa Al-Quran ini. Dia berkata:
تعلموا الغة العربية فإنها من دينكم – ta’allamuu al-lughata al-‘arabiyyata fainnahaa min diinikum
Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu
Oke, baiklah kita segera mulai lanjutan pelajaran kita…
Aina washolnaa? (sudah sampai dimana kita kemaren?) Oh ya sudah bahas mengenai Kalimat Pasif. Tapi yang sudah kita bahas itu hanya kalimat pasif dari kata kerja 3 huruf asli. Contoh:
خلق الله الناس – kholaqo Allahu an-naasa (Allah menciptakan manusia)
خلق الناس – khuliqa an-naasu (Manusia diciptakan)
Kalau ada waktu insya Allah kita bisa bahas, ragam kalimat dari satu kalimat aktif menjadi 3 bagian:
1. Kalimat pasif
2. Kalimat berita tentang subject
3. Kalimat berita tentang object
Wah apa lagi nih… Gini Mas… Biar jelas, kita kasih contoh saja ya…
يفتح الموظف باب المكتبة صباحا – yaftahu al-muwazhzhofu baaba al-maktabati shobbaahan
Petugas itu membuka pintu perpustakaan pada pagi hari.
Oke kalimat diatas kalimat aktif kan? Oke... sekarang kita bisa membuat 3 macam kalimat dari kalimat diatas, yaitu:
يفتح باب المكتبة صباحا – yuftahu baabu al-maktabati shobbaahan.
Pintu perpustakaan dibuka pada pagi hari.
Itu kalimat pertama yang bisa kita buat. Sekarang kalimat ke dua, yang menjelaskan tentang subject. Siapa subjectnya : petugas. Ngapain dia? Membuka pintu.
الموظف فاتح – al-muwazzafu faathihun : petugas itu (adalah) orang yang membuka (pintu)
Kalimat ketiga yang kita bisa buat, adalah kalimat tentang object, yaitu pintu.
باب المكتبة مفتوح – baabu al-maktabati maftuuhun: pintu perpustakaan itu terbuka.
Terlihat kan bahwa dari satu kalimat aktif yang sempurna, kita bisa membuat 3 macam kalimat baru. Insya Allah kita akan latihan hal ini lagi di bagian-bagian lain.
Sekarang kita lihat hal yang sedikit lebih sukar. Apa itu?
Oke... Bagaimana membentuk kalimat pasif dari KKT 5. Oh ya KKT 5 itu adalah KKT dengan wazan تفعل – tafa’-‘ala.
Contohnya:
تفكر في – tafakkara fii : memikirkan
تفكر محمد في درسه – tafakkara muhammadun fii darsihi : Muhammad memikirkan pelajarannya.
Bagaimana pasifnya?
درسه تفكر في -darsuhu tufukkira fii : Pelajarannya dipikirkan.
Oke, apa yang bisa dipelajari? Insya Allah mudah. Yaitu, jika kita bertemu wazan KKT-5, maka urutan aktif pasif sbb:
تفعل – tafa’-‘ala (aktif)
تفعل – tufu’-‘ila (pasif)
Contoh lain:
تقدم الوالد أمام ولده – taqoddama al-waalidu amaama waladihi : Bapak itu berjalan mendahului anaknya.
Lihat KKT 5 nya: تقدم – taqoddama : berjalan mendahului
Jika dipasifkan, ingat ingat lagi wazannya: tufu’-‘ila, berarti taqoddama menjadi tuquddima. Sehingga kalimatnya menjadi:
تقدم الولد – tuquddima al-waladu : anak itu didahului.
Oke… Insya Allah mengerti ya… Kita akan lanjutkan lagi dengan topik lain, dengan masih membahas seputar kalimat pasif. Insya Allah.
Minggu, 02 Maret 2008
Topik 77: Kalimat Pasif (lanjutan I)
Bisimillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah off, beberapa lama, kita coba lanjutkan pembahasan mengenai kalimat pasif. Mengapa topik ini yang dipilih?
Ada beberapa alasan. Tetapi yang paling menarik untuk disampaikan adalah, seringkali bagi pemula (saya Insya Allah juga termasuk pemula --don't worry), ada beberapa kesalahan pengertian dari orang yang berbahasa non-arab (Indonesia, Melayu, maupun Inggris) dalam memahami kalimat pasif dalam bahasa Arab.
Ambil contoh: Saya membaca buku.
Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.
Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.
Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:
Buku dibaca oleh saya.
A book was read by me.
Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!
Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:
Buku dibaca.
Sudah. Gitu aja.
Kok bisa?
Ya begitu peraturannya.
Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.
Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.
Jadi kalau kita buat contoh diatas:
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Jika dibuat pasif:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Perhatikan hal-hal berikut:
1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).
2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.
3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a.
4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.
5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu.
Weleh-weleh... banyak yang musti diperhatikan ya...
Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?
Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.
Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.
Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.
Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.
Sehingga yang benar itu, membacanya:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:
وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.
Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:
wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.
Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.
Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah off, beberapa lama, kita coba lanjutkan pembahasan mengenai kalimat pasif. Mengapa topik ini yang dipilih?
Ada beberapa alasan. Tetapi yang paling menarik untuk disampaikan adalah, seringkali bagi pemula (saya Insya Allah juga termasuk pemula --don't worry), ada beberapa kesalahan pengertian dari orang yang berbahasa non-arab (Indonesia, Melayu, maupun Inggris) dalam memahami kalimat pasif dalam bahasa Arab.
Ambil contoh: Saya membaca buku.
Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.
Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.
Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:
Buku dibaca oleh saya.
A book was read by me.
Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!
Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:
Buku dibaca.
Sudah. Gitu aja.
Kok bisa?
Ya begitu peraturannya.
Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.
Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.
Jadi kalau kita buat contoh diatas:
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Jika dibuat pasif:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Perhatikan hal-hal berikut:
1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).
2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.
3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a.
4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.
5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu.
Weleh-weleh... banyak yang musti diperhatikan ya...
Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?
Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.
انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.
Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.
Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.
Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.
Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.
Sehingga yang benar itu, membacanya:
قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca
Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:
وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.
Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:
wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.
Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)